NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889 — 1936
(7)
T A N A H G A Y O D A N A
L A S
Betawi, 14 J a n u a r I 1902 ,
Ke
hadapan Yang Mulia Gubernur Jenderal
Gubernur
Aceh telah mengirimkan kepada saya, dalam tulisan tertanggal 31 Desember 1901,
No. 639/K, sepucuk surat yang ditujukan kepada Yang Mulia, dengan permintaan
untuk diteruskan, jika perlu, dengan catatan mengenai pokok pembicaraannya .
Mengenai yang
tersebut terakhir itu, mungkin untuk sementara saya boleh membatasi diri pada
pernyataan persetujuan saya sepenuhnya dengan isi surat kiriman Gubernur .
Adapun T a n a h Gayo dan Alas merupakan satu kesatuan dengan Aceh dalam arti
politik. Dari kedua daerah itu, terutama dari T a n a h Gayo, memang golongan
perang di Aceh selalu dapat memperoleh bermacam - macam bantuan . Bila para
kepala perlawanan itu tidak dapat lagi bertahan, di daerah Aceh asli, mereka
untuk sementara mundur ke T a n a h Gayo untuk menghalangi perdamaian dengan
berpangkalkan daerah tersebut. Penyelidikan baru - baru ini, antara lain, telah
menyimpulkan bahwa penduduk pedalaman tidak banyak mempunyai sarana untuk
bertahan . Maka, keharusan yang dipikulkan kepada kita untuk campur tangan
dengan kedua daerah laras itu sama sekali tidak melebihi kekuatan kita.
Adapun yang khusus
mengenai daerah hulu Sungai Peureulak dan Sungai Temiang, yang di kedua tempat
tersebut Serbojadi merupakan bagian yang penting, di sana ditemukan sejumlah
pemukiman penduduk Gayo yang agak baru yang telah mendapat sumbangan pemukiman
dari ketiga daerah laras Gayo (Laut = daerah danau, Gayo Luos = daerah
Petiambang, dan Linggo). R u p a n y a pemukiman yang tertua berasal dari
Linggo dan kepala yang terpenting pun, apa yang disebut Kêjuron Abok,
merupakan keturunan daerah tersebut. Data yang saya kumpulkan dalam bulan
September dan Oktober 1900 dan sebagian - meskipun bukan tanpa
kesalahan-kesalahan yang agak besar - dimasukkan ke dalam peta Aceh dan daerah
taklukannya dengan skala 1:500.000, hanya berkaitan dengan tiga daerah laras
pokok orang Gayo, tidak berkaitan dengan Serbojadi dan sekitarnya.
Keterangan-keterangan yang telah diperoleh pada akhir tahun 1901 berkaitan
dengan pemukiman - pemukiman itu juga dan oleh Letnan C C . Musch[1]
telah diolah secara kartografi agar dimasukkan ke dalam peta dengan skala 1:200.000.
Maka, pada peta yang baru itu tidak dicantumkan garis perbatasan yang dimaksud
oleh G u b e r n u r Aceh, yang semata-mata harus dipandang sebagai suatu
kesewenangan. Sekaligus dapat terlihat di situ bahwa Serbojadi bukan merupakan
kampung, melainkan satu daerah yang terdiri atas berbagai kampung . Sebaliknya,
garis perbatasan yang dicantumkan pada peta baru itu harus lebih dipandang
sebagai mencantumkan suasana yang terkena pengaruh ataupun daerah yang langsung
berada di bawah Kêjuron Abok. Berbagai kepala kecil di sini, karena
tidak ada kekuasaan pusat, selalu saling berebut tempat pertama . T e r u t a m
a sejak perdagangan getah mendatangkan keuntungan bagi para kepala yang agak
cerdik, orang-orang asing yang telah dapat merebut tempat yang mantap di daerah
ini, melalui perkawinan, sudah memperoleh kekuasaan yang nyata. Begitu pula
rupanya di Serbojadi dan daerah yang termasuk di situ, seorang Melayu dari
Sumatra Timur, Ama Nyara, yang telah menikah dengan putri mendiang KêjuronAbok
(yang bernama Kêjuron Gampang) sekarang menjadi tokoh yang
terkemuka. Bahkan, di luar ia dengan mudah saja disebut KêjuronAbok.
Dan demikian pula di R a m p a h , yang mula-mula termasuk daerah Pengulu
Penarön , seorang Aceh yang bernama Ama - n - Intan paling banyak pengaruhnya .
Pengakuan-pengakuan hak yang saling berlawanan baru akan jelas sepenuhnya bila
kita mulai mengadakan peraturan di sana dan menjamin pelaksanaannya. Untuk
sementara kunjungan ke daerah itu, untuk menjalin hubungan dan mengumpulkan
data, diperlukan. Sementara itu akan dibutuhkan sekali bantuan yang kuat dari
Kuala Simpang.
Pendirian yang dalam
hubungan - hubungan yang bersifat sementara harus dianut terhadap para kepala
yang telah menawarkan penyerahan dirinya dalam satu bentuk, dalam pandangan
saya adalah seperti berikut: Daerah mereka yang merupakan bagian Aceh telah
termasuk dalam penaklukan Aceh oleh pihak Pemerintah. Maka, yang diharapkan
dari mereka tidak lain selain ketaatan kepada perintah -perintah yang diberikan
kepada mereka. Begitulah, bagaimanapun, hal itu dibayangkan oleh para kepala
tersebut. Mereka menghadap kepada penguasa kita untuk memberitahukan bahwa
mereka menyerah kepada keadaan dan tidak mau dianggap sebagai musuh Pemerintah.
Satu pendudukan dalam bentuk yang tertinggi dalam hal itu tidak diperlukan
seperti juga penolakannya dengan alasan bahwa orang tidak ingin segera
menempatkan aparat Pemeritah. Penandatanganan pernyataan - pernyataan,
sebagaimana yang dikatakan oleh Gubernur Aceh dengan tepat, dapat menyusul
kemudian bilamana data mengenai hubungan - hubungan politik sudah dianggap
cukup untuk kepentingan itu. Karena para penghuni Serbojadi dan sekitarnya
mempunyai hubungan dagang yang terpenting di Temiang, maka akan mudahlah untuk
setiap kali menguji keterangan yang telah diperoleh itu lebih lanjut dan
melengkapinya, dengan berpangkal di Kuala Simpang. Karena itu, pantas dianjurkan
agar Residen Sumatra Timur diberi tugas mendukung usaha itu dengan kuat dalam
arti yang telah dinyatakan tadi.
Kutaraja, 9
November 1902
Kutaraja, 9
November 1902
K
e p a d a Gubernur Sipil d
a n Militer
Aceh
dan Daerah Taklukannya
Nota tentang petunjuk-petunjuk yang akan dijalankan dalam
hubungan dengan para kepala dan penduduk T a n a h Gayo
Telaah saya mengenai T a n a h Gayo
dalam bentuk cetak masih lama terbitnya. Padahal pengalaman yang diperoleh
dengan berbagai pasukan itu telah menunjukkan bahwa ketidaktahuan akan beberapa
d a t a yang mendasar akan menimbulkan berbagai kesalahpahaman . Maka, saya
kira bijaksana untuk minta perhatian atas beberapa soal pokok, terutama
berkaitan dengan susunan pemerintahan .
Karena sudah biasa akan susunan
pemerintahan pribumi di Aceh dan banyak daerah lain, maka orang yang masuk ke T
a n a h Gayo tanpa disengaja akan mencari para kepala kampung, kepala kompleks
kampung . Dan bila ia mendengar tentang keempat kejuron yang mungkin tersebar
di seluruh T a n a h Gayo, hal ini membuatnya cenderung untuk menyamakan para kèjuron
itu dengan semacam kepala daerah laras. Namun, yang tersebut terakhir itu tidak
tepat. Maka, usaha mencari kepala seperti yang tersebut pertama tadi sia-sia,
sebab memang tidak ada . Sebaliknya, orang Gayo yang berbicara dengan pihak
Kömpeun i sangat cepat dan mengerti dengan baik bahwa yang dicari ialah hal-hal
yang ditemukan di Aceh tetapi tidak ditemukan pada mereka. Namun, mereka tidak
begitu mempunyai pengetahuan untuk menjelaskan dasar pembagian penduduk mereka
yang sama sekali berlainan itu kepada orang-orang yang bertanya. Lalu mereka
memilih jalan yang lebih mudah . Mereka berbuat seolah-olah keadaan di daerah
mereka hanya sedikit berbeda dengan keadaan di daerah tetangga mereka. Lalu
mereka mengajukan orang-orang yang mempunyai j a b a t a n bayangan yang dibuat
untuk kesempatan itu. Dan bayangan yang tidak tepat yang telah terbawa oleh
orang-orang yang bertanya kepada mereka, dengan demikian, seolah-olah diperkuat.
Hal itu akan saya jelaskan nanti dengan beberapa contoh, tetapi di sini lebih
dahulu dasar kehidupan paguyuban Gayo akan diuraikan secara garis besar.
O r a n g Gayo dibagi-bagi, bukan
menurut kesatuan wilayah, melainkan menurut kesatuan keturunan yang menurut
jumlah dan arti pentingnya dapat disebut suku atau keturunan. Bukan kampung,
melainkan suku atau penggalan suku yang sudah terbagi itulah yang merupakan
kesatuan pemerintahan, jika mau disebut begitu. Para warga sebuah suku sebagian
besar merupakan keturunan seorang datuk yang sama, menurut garis lelaki. Sebab,
wanita di sana lazimnya pindah ke tempat lain melalui kawin beli. Mereka hanya
berperan pada perluasan suku-suku lain di luar suku ayah mereka sendiri.
D a l am hal ini ada perkecualian:
seorang wanita dapat juga tinggal di kalangan suku ayahnya, karena ayah
tersebut mengawinkan anaknya dengan salah seorang asing tanpa menuntut maskawin
(kawin angkap). O r a n g asing itu lalu masuk ke dalam suku sebagai
anak angkat dan warga angkat. T a n p a pernikahan pun orang asing dapat
diangkat anak dan diterima sebagai warga suku dengan hak sama seperti warga
lainnya (namanya menyahan, dari kata dasar sah) (Penerjemah: sama
artinya dengan 'sah' bahasa Indonesia). Terkadang bahkan sejumlah orang asing
yang mengungsi dari tempat lain, karena salah satu sebab, secara serentak
diterima dalam ikatan suku lain. Dalam hal itu semua tetap dipertahankan, yakni
khayalan bahwa semua saudbYó (saudara) sedarah dan silsilah mereka
kembali kepada seorang datuk yang sama. Asal usul unsur-unsur yang semula asing
itu segera dilupakan.
Memang, ada suku atau
keturunan, terutama yang kecil, yang batas-batasnya bertepatan dengan
perbatasan pemukiman mereka. J a d i , mereka bermukim di dalam satu kampung
saja dan tidak berbagi tempat dengan suku lain m a n a pun . Sebaliknya, ada
suku atau keturunan yang terbagi-bagi menurut berbagai kampung . Terkadang
mereka tinggal sendirian, terkadang bersama suku atau penggalan suku lain.
Adakalanya berbagai tempat tinggal satu' suku itu berdekatan, adakalanya agak
berjauhan. Maka, sekali-sekali timbul perselisihan, kelaparan, atau musibah
lain yang memaksa penggalan salah satu suku tersesat sangat j a u h sehingga
kaitan dengan keseluruhannya lambat laun menjadi sangat lemah.
Keadaan yang paling
teratur terjadi ialah bahwa satu suku atau keturunan berada di bawah seorang
kepala atau rojö (raja) yang sering juga dinamakan pengulu. Kegiatannya
dalam menegakkan ödöt (adat) dilakukan bersama dengan seorang tua
atau petuö, sementara imam bertindak untuk urusan-urusan yang
lebih berkenaan dengan hukum agama (yaitu pernikahan, perceraian, dan
sebagainya, bukan ibadahnya; untuk kepentingan itu di mesjid-mesjid terdapat katip
atau atip dan bilal (Penerjemah: bahasa Indonesia 'bilal')).
Namun, ada berbagai sebab yang menjadikan banyak suku terbagi dalam beberapa
paguyuban, yang masing-masing mempunyai röjö, imam, dan tub'
sendiri. Misalnya disebabkan oleh:
i) Banyaknya penduduk
seluruh kompleks kampung Isak termasuk satu suku, namun dibawahkan oleh 5 röjö.
ii) J a r a k yang jauh
antara berbagai tempat tinggal. Biasanya orang pertama - tama menunjuk bödöl
(pengganti) (atau badai dalam bahasa Arab, Penerjemah) untuk pangkat röjö,
tub', dan imam untuk menyelesaikan urusan sehari-hari. Atau,
pejabat-pejabat ini sebagian tinggal di sini, sebagian di sana, dan
membagi-bagi pekerjaannya, ataupun berganti-ganti tinggal di kampung yang satu
dan di kampung yang lain. Lama - kelamaan hal itu sulit dilakukan bila jaraknya
j a u h . Sebab, pada setiap tempat dalam urusan penting dibutuhkan doa
dari rojo. Maka, akhirnya seorang kerabat röjö yang energik
diangkat dari pangkat bödöl menjadi röjö yang mandiri. J a d i ,
jabatan yang kedua itu, seperti juga j a b a t a n yang pertama, menjadi turun
- temurun .
iii) Saling
cemburu atau ada persengketaan antara berbagai warga kerabat rojö.
Karena itulah, misalnya, terjadi pemecahan keturunan Buket (yaitu
keturunan para kèjurön Laut Tawar) menjadi dua bagian. Mungkin sebelumnya
telah timbul pemisahan kelompok Gunongtak di bawah seorang röjö
tersendiri.
iv) Baru-baru
ini terjadi kecenderungan bahwa mereka {kejurôn dan kepala-kepala
semacam itu) harus mengesahkan pemisahan-pemisahan seperti itu dan menarik
keuntungan keuangan dari situ dengan maksud melipatgandakan jumlah röjö
untuk manfaat mereka sendiri.
Selain itu ada banyak
sebab lain yang sekarang menyebabkan satu suku sering merangkum berbagai
paguyuban kecil-kecil yang terdiri atas satu atau dua rumah (terkadang malah satu
rumah saja). T e r u t a m a jika ' tempat tinggalnya berjumlah banyak, n a m u
n juga jika warganya tinggal bersama di dalam satu kampung . Masing-masing
mempunyai röjö, imöm, dan tuanya, sendiri.
Pada pemisahan yang pertama, kedua röjö
itu biasanya bersaudara. Adapun kepala paguyuban yang baru itu adalah adik atau
- ini hampir sama menurut pendapat orang Gayo - saudara sepupu langsung dari
kepala paguyuban lama. Lalu mereka dibedakan sebagai röjö atau pengulu cék
(dari kata dasar bahasa Aceh cik 'tua') dan röjö atau pengulu
mudö. Gelar-gelar ini tetap turun - temurun, sehingga kemudian tidak ada
hubungan lagi antara gelar tersebut dengan penyandangnya masing-masing.
Misalnya, rojo atau kèjurön Linggö didampingi oleh röjö
atau kèjurön Mudö. Masing-masing menjadi kepala bagian tersendiri dari
suku asli. Di Gayo Luos pranata ini sudah biasa berkembang. Di situ banyak
sekali terdapat para cék dan mudb'. Maka, kebiasaan berbicara
telah bertambah luas sehingga suku atau keturunan asing pun, yang sedikit
banyak menjadi lebih rendah daripada sajah satu suku lain, menyebut kepala suku
yang lebih tinggi ini sebagai ceknya, sendiri.
Setiap suku yang masih utuh dan setiap
penggalan suku atau keturunan mempunyai nama sendiri. Terkadang nama itu kebetulan
sama dengan nama tempat tinggal bersama (misalnya, Mbacang atau Remokot di Gayo
Luos dan sebagainya); terkadang kebetulan sama dengan kepala yang menjabat
ketika pembentukan suku itu terjadi (misalnya Petiambang Kejurô n Dagang) .
Sering asal usul nama tidak tertelusuri lagi (misalnya, Buket, Gunung Meluöm ,
dan sebagainya). Ada beberapa suku, terutama nama warga Röj ö Cék dari Böbasan
, rupanya berasal usul Batak (Cebero, Munté", Tebó , Linggö , Melala).
Ketika atau sesudah pemecahan satu suku
menjadi dua bagian atau lebih, maka orang yang baru memisahkan diri itu
biasanya memilih n a m a sendiri. Namun, n a m a tersebut hanya berkaitan
dengan pembagian kekuasaan dan tidak mengutak-atik kesatuan keturunannya .
Misalnya, di daerah Laut T a w a r terdapat penggalan sebuah
suku yang disebut menurut kepalanya, Cék Kuala[2]
atau Kala. Yang berdasarkan k e t u r u n an bersatu
dengan penggalan ini ialah kelompok-kelompok lain yang menyebut dirinya,
menurut kepalanya, Pengulu Mudö. Hal itu menunjukkan pembagian kekuasaan
suku yang semula di bawah seorang cékdan seorang mudö. Selain itu
sekarang pun masih ada unsur Pengulu Jalél (agaknya menurut nama diri
kepala fraksi yang pertama) dan Pengulu Sagi dengan nama yang tak jelas
asal usulnya. Keempat kesatuan pemerintahan ini merupakan satu suku, termasuk
dua keturunan lain yang telah pindah dari tempat lain ke daerah Laut, yaitu
keturunan Pengulu Akém dan Pengulu Lot. K a r e n a salah satu sebab yang
sekarang tidak diketahui lagi kedua kesatuan ini telah dimasukkan ke dalam
keseluruhan keturunan itu, meskipun masing-masing masih tetap mempunyai kepala
sendiri.
J a d i , meskipun
perbedaan nama tidak selalu menunjukkan perbedaan suku, sebaliknya nama
tersebut dapat dipakai untuk lebih dari satu suku. Linggö , suku di daerah Röj
ö Cék (Böbasan ) dan Linggö , suku Kejurô n yang terkenal di kampung yang
senama dengan suku tersebut, diketahui tidak saling berkerabat. Dan apakah ada
kekerabatan antara Buket dari daerah Laut dan para Buket Gayo Luös , sangat
diragukan.
Tolok ukur bagi
kesatuan suku ialah larangan kawin yang dipertahankan dengan keras antara warga
satu suku, selama kekerabatan itu belum dilupakan . O r a n g Gayo yang berada
di bawah satu röjö, satu imam, dan satu tub', dengan
demikian tidak boleh kawin satu dengan lainnya. Sebaliknya, bahwa anak
buah berbagai röjö malahan boleh kawin satu dengan lainnya, belum
menjadi kenyataan. Bukankah jika salah satu suku terbagi dalam beberapa
lingkungan kekuasaan dan dengan demikian berada di bawah beberapa röjö,
maka anak buah röjo-röjö itu juga tidak boleh saling mengadakan
perkawinan? J a w a b a n yang biasa diberikan atas pertanyaan bagaimana
hubungan antara d u a paguyuban ialah nggók atau görö nggók bèlöwön
(bërsianggôn, bêrsikêrjön), yaitu 'mereka boleh' atau 'mereka tidak
boleh kawin satu dengan lainnya'.
Larangan perkawinan itu berlaku juga
untuk orang asing yang dengan salah satu sarana tersebut tadi (pernikahan tanpa
maskawin, pemungutan, penggabungan sukarela) telah dimasukkan ke dalam satu
suku. Bahkan rupanya terjadi pula bahwa dua suku yang semula asing satu
terhadap yang lain secara menyeluruh saling menyatukan diri dalam ikatan
kekerabatan buatan (bersesakan 'saling mengawini'). Sejak saat itulah
tidak mungkin terjadi perkawinan antara mereka. Yang disebut belakangan itu
langka terjadi, yang lebih sering terjadi ialah hubungan darah yang jelas
ditentukan dengan cara yang dibuat - buat . Dengan demikian satu suku yang,
misalnya, pertama - tama terbagi menjadi 2 kesatuan kekuasaan lalu membelah
diri menjadi 2 kesatuan suku. Hal tersebut, misalnya, belum lama ini terjadi
dengan suku Kèjurö n Linggö , di m a n a sekarang orang-orang yang termasuk kèjurön
boleh kawin dengan mereka yang termasuk mudö. Itu boleh dilakukan
meskipun kesatuan suku yang asli tidak akan m u d a h dilupakan di situ.
" P e r a t a a n jalan satu dengan lainnya" disebut bérpèrata atau
bérpènrata.
Sementara itu cara berperata
antara beberapa bagian dalam satu suku, meskipun tidak selangka cara bersesakan,
sangat jarang terjadi dibandingkan dengan
pembelahan atas beberapa kesatuan pemerintahan yang m
e m b i a r k an utuh kesatuan beberapa bagian tersebut. Sehubungan dengan itu
hendaklah orang waspada terhadap kesalahpahaman dalam memakai kata blah
yang terkadang, tetapi tidak selamanya, sesuai dengan pengertian
"suku"
K a t a blah
atau belah yang sebenarnya berarti 'pihak, sisi' pertama - tama
menegaskan kampung atau sebagian kampung tempat beberapa orang tinggal bersama.
Pada sudut yang sama »atau pada sisi yang sama kebanyakan tinggallah orang yang
sekelompok, jadi misalnya, anggota satu suku atau satu bagian yang sama dalam
suku yang sama.
Misalnya, di Kebajakan dikatakan bahwa
seseorang berasal dari blah Buket, dengan demikian kekerabatan sukunya
sudah cukup dijelaskan. Dari kata itu terbukti bahwa ia termasuk ke
dalam satu di antara d u a keturunan dari kesatuan Buket Lah atau (Mamat) +
Bukét Éwé h (atau J a r a n ) + Gunong + Pengulu Bèruksah. Akan tetapi,
tampaknya blah Buket merupakan juga kesatuan yang lebih kecil daripada suku.
Agar dapat memastikan jati diri seseorang dengan lebih teliti lagi, perlulah
ditegaskan apakah ia blah Éwé h atau blah Lah . Bahkan, di dalam
kesatuan-kesatuan yang lebih kecil pun sering masih dibedakan lagi beberapa blah,
misalnya blah imöm, blah tuö, dan sebagainya, yang menjelaskan satu atau
beberapa keluarga yang merupakan para kerabat terdekat imöm atau tuö',
dan yang biasanya juga tinggal di tempat - tempat yang lebih berdekatan. J a d
i , jika orang menyebut semua blah satu daerah atau satu kampung, itu
hal yang lain sama sekali dengan menyebut suku-suku atau bahkan keturunan-keturunan.
Para röjö atau pengulu (kedua
nama itu saling ditukar-tukar) hampir semuanya mempunyai nama j a b a t a n
yang sedikit banyak turun - temurun . Terkadang nama - nama itu bertepatan
dengan nama suku (Röjö Gunöng ) atau bagian suku (Cék Kuala, Röjö Bukét Éwéh ,
atau J a r a n ) yang dibawahkannya, terkadang merupakan n a m a pemangku
pertama bagi satu j a b a t a n yang masih tetap melekat pada j a b a t a n itu
(Pengulu Gading, P. Jalél), terkadang merupakan asal usul n a m a yang tidak
dapat ditelusuri lagi. Maka, orang Gayo menerangkannya dengan bantuan
dongeng-dongeng (Kepala Akal di Isak, Röj ö Këmal a dan Röj ö Kemala Derna di
Gayo Luos, Kejurô n Abö k di Serbojadi).
Berlaku sebagai peraturan bahwa j a b a
t a n rojo dan terkadang juga j a b a t a n tuö dan imöm,
meskipun dalam ukuran lebih kecil, bersifat turun - temurun dalam keluarga
(dalam arti yang lebih sempit) yang sudah telanjur memangkunya . Meskipun
begitu, dapat bergantung pada keadaan, manakah di antara beberapa putra yang
menggantikan ayahnya, atau manakah di antara para kerabat lebih j a u h - u m p
a m a tidak ada putra - yang memenuhi syarat untuk mengisi lowongan. Pengisian
jabatan bagi anak yang belum akil balig oleh kaum kerabat yang lebih tua tidak
ganjil. Kesukaan kepada salah seorang di antara beberapa calon bukan didasarkan
umur yang lebih tua; sebaliknya orang Gayo pada umumnya malah cenderung kepada
anak bungsu, demikian pula dalam hal hukum waris.
Sebagaimana hampir
semua fungsi röjö dapat diwakili oleh tuanya, atau oleh
kerabatnya yang menjabat sebagai bödöl di tempat yang jauh, juga biasa
sekali bahwa tanpa penguasaan yang sengaja pun j a b a t a n röjö dapat d i p e n u hi oleh berbagai kerabat
dekat dari penyandang gelar tersebut. Mereka yang paling cerdik dan paling
terampil tentu saja paling menonjol juga. Sebaliknya, jika penyandang gelar
kurang giat, maka penampilan pribadinya terkadang merupakan kekecualian yang
langka.
Oleh karena itu,
terjadi gejala bahwa sering berbagai anggota keluarga tersebut secara gampang
dijelaskan dengan nama jabatan röjö yang bersangkutan. J u g a terjadi
bahwa banyak orang Gayo yang agak terpelajar tidak dapat mengatakan dengan
pasti siapakah di antara kaum kerabat itu pada suatu saat sebenarnya yang
merupakan satu-satunya röjö keturunannya sendiri atau keturunan orang
lain. Memang ada salah seorang yang telah diberi pengesahan resmi, tetapi untuk
praktik hal ini tidak mengandung makna tertinggi. Maka, berkali-kali sesudah
kematian seorang penyandang gelar, orang lama ragu-ragu sebelum menunjuk
seorang penyandang gelar yang baru . Sementara itu kaum kerabat yang dekat,
tanpa mengejar gelar yang teoretis, saling berlomba untuk mempunyai wewenang
dalam menentukan kata putus.
K a t a putus yang
dimaksudkan adalah hak-lebih rojö yang masih harus dibaginya dengan
banyak orang, seperti terbukti kepada kami. Perintah atau hukuman hanya dapat
diberikan jika ödb't (adat) yang terkenal di mana - mana itu memberikan
hak untuk itu tanpa dapat disangsikan. Dalam segala urusan yang memerlukan
musyawarah ia hanya menjadi ketua bagi republik kecil dan tak bermutu yang
dipersatukan oleh hubungan darah, dan bukan oleh rajanya atau kepalanya, yang
keputusannya berlaku sebagai undang - undang . Sementara itu kekuasaan yang
lebih tinggi daripada kekuasaannya sendiri tidak ada. Bahkan, hukuman mati atas
seorang warga sukunya sendiri atau keturunannya sendiri dilaksanakan oleh dia
sendiri, atau lebih tepat di bawah pengetahuannya, tanpa pengesahan atau
bantuan yang lebih tinggi.
Dalam hal
persengketaan antarwarga beberapa suku atau keturunan, bermusyawarahlah para rojo,
tuo, imöm, dan tetua kedua belah pihak. Andaikan di antara mereka tidak
tercapai persetujuan, maka keputusan terakhir yang dicari itu harus diberikan
dengan tindakan prang 'perang' kecuali jika ada pihak ketiga yang
berminat berhasil merukunkan mereka.
Usaha-usaha untuk
menyelesaikan persengketaan biasanya merupakan prakarsa para kerabat, semenda,
atau tetangga. Terkadang sebagai hakim pemisah bertindak pula salah seorang
kepala yang di dalam namanya terkandung martabat yang lebih tinggi daripada röjö-röjö,
para kèjurön, dan orang lain yang kedudukannya sama.
Para kèjurön itu semuanya
menjalankan j a b a t a n röjö-röjÖ lainnya, yaitu menjadi kepala suku
atau keturunan . Misalnya, Kèjurö n atau Röj ö Bukét adalah kepala salah satu
di antara dua bagian tempat keturunannya (Bukét) yang merupakan bagian dari
suku yang lebih besar tetapi lalu terbelah, jelasnya terbelah dari Bukét Lah
atau Mamat; Siah U t a m a adalah kepala keturunan kecil yang di daerah Laut
hanya diwakili oleh beberapa rumah dan selanjutnya di setiap T a n a h Gayo
diwakili oleh beberapa pemukiman yang tidak penting; Röj ö Linggö adalah kepala
satu belahan suku Linggö ; Petiambang adalah kepala keturunan yang semata-mata
bermukim di kampung Penampakan . Dalam keadaan demikian mereka
tidak dapat dibedakan dengan para röjö lainnya. Bahkan, banyak di antara
mereka yang dilebihi oleh para rojo lainnya dalan hal jumlah dan
kekayaan anak buahnya .
Mereka mendapat kedudukan yang istimewa
itu semata-mata berkat campur tangan yang hanya sebentar saja dari pihak
Kerajaan Aceh yang ketika itu paling berkuasa, lebih dari 2 abad yang lalu,
atas T a n a h Gayo. Seperti juga di T a n a h Alas dan di berbagai bagian T a
n a h Batak, Sultan Aceh di sini pun mengangkat beberapa wakil yang, kalau
perlu, harus menghadap kepada beliau dan mengumumkan kehendak beliau kepada
rakyat Gayo. J u m l a h orang-orang yang terpilih itu, seperti terjadi di
banyak daerah Batak, adalah 4 orang (Tanah Alas yang kecil itu hanya mendapat 2
kepala). Pengangkatan 4 kèjurön itu sama sekali tidak didasarkan atas
pengetahuan yang lebih teliti tentang keadaan di Gayo. Sebaliknya, dapat
dianggap bahwa para röjö yang terpenting ketika itu agaknya
dipilih untuk jabatan tersebut. Dengan demikian fungsi utamanya adalah
memelihara hubungan yang tidak dilestarikan lagi dalam waktu yang sangat
singkat sesudah hubungan itu dijalin. Untuk keperluan itu T a n a h Gayo, yang
ketika itu pasti lebih j a r a n g lagi penduduknya daripada sekarang, dibagi
menjadi empat wilayah. Adapun maksud Sultan Aceh mungkin ingin menjadikan
wakil-wakil tersebut semacam kepala daerah laras Aceh. Akan tetapi, hal itu
dengan sendirinya tidak mungkin berhasil tanpa dukungan yang kuat dan
terus-menerus dari luar. J a b a t a n seperti itu seluruhnya di luar
organisasi kehidupan paguyuban Gayo . Karena pihak Aceh selanjutnya kurang atau
sama sekali tidak mempedulikan orang Gayo yang tidak dapat memberikan jasa dan
juga tidak dapat menghasilkan keuntungan yang penting kepada Kerajaan Aceh itu,
maka jabatan kèjurön pada dasarnya tetap merupakan harta pusaka
terhormat, tanpa banyak arti bagi kehidupan.
K a u m Bukét tetap
mejadi kepala sebuah keturunan yang terkemuka, sebaliknya, jabatan kèjurön
tidak m a m p u mencegah perpecahan sukunya menjadi empat atau lebih banyak
penggalan. Penggalan Siah U t a m a merosot sama sekali, sedangkan orang-orang
sesukunya tersebar seperti pasir yang ditiup angin. Röj ö Linggö , yang selama
pembentukan tanah-tanah kèjurön agaknya merupakan kèjurön yang
terpenting, tetap melestarikan nama yang terhormat, bertentangan dengan
kemiskinannya dan penduduknya yang kecil jumlahnya . Meskipun begitu ia hidup
dengan cara yang lebih rendah daripada golongan sederhana di kampung yang sudah
rusak sama sekali. Penggalan Petiambang berperang dengan para röjö' yang
menurut teori Aceh semestinya berada di bawah kekuasaannya, bukan untuk
mempertahankan kekuasaan kèjurön, melainkan dengan alasan yang sama
seperti yang selalu menyebabkan para röjö di Gayo Luos berperang satu
dengan lainnya. Beberapa tahun yang lalu wakil terkemuka keluarga Petiambang
dibunuh dalam perang seperti itu (dengan Röj ö atau Pengulu Buke't), selain itu
jenazahnya dirusak pula.
Meskipun begitu,
tidak ada seorang Gayo pun yang berniat menyingkirkan teori 4 kèjurön.
Begitu juga di antara suku-suku Batak yang masih perbegu pun, "si e m p a
t " yang telah dipranatakan oleh Kerajaan Aceh masih tetap mendapat penghormatan
dari pihak penduduk . Itulah k e n a n g - k e n a
n g an yang masih tetap bertahan mengenai kekuasaan dahsyat yang pernah
dikembangkan oleh Kerajaan Aceh, dan di antara orang Gayo masih diperkuat
karena kesatuan agamanya .
O r a n g Gayo bahkan
dengan senang hati menugaskan fungsi-fungsi jabatan kepada seorang kèjurön,
sejauh hal itu dilonggarkan oleh pranata - pranata mereka. Misalnya, sudah kami
sebut penyelesaian atau pewasitan perselisihan. Sebaliknya, jika kèjurön
itu sepenuhnya tenggelam dalam kepentingan sukunya sendiri, j a u h dari tempat
tinggalnya, atau tidak memperlihatkan banyak kemauan atau kecakapan untuk
campur tangan seperti itu, maka orang lebih suka mendekati orang-orang lain
atau menyelesaikannya sendiri. Pengangkatan seorang röjö baru, menurut
adat, memerlukan doa para kèjurön. Doa (pengesahan) itu bahkan
harus dibayar jika pemilihan itu tidak terjadi sebelum pemakaman pejabat yang
sudah meninggal. Pemisahan satu bagian suku, yang menyebabkan terciptanya j a b
a t a n röjö baru, memerlukan pengesahan kèjurön yang harus
dibayar pula. Sebaliknya, kalau misalnya di daerah Röj o Büke t (Laut Tawar)
sulit diperoleh pengesahan dari R . B. Mamat, maka pengesahan itu kemudian
diminta kepada R . B. J a r a n , dan seterusnya. J a d i , hal-hal itu
merupakan peristiwa-peristiwa langka yang memerlukan bantuan j a b a t a n dari
kèjurön. Dalam hal itu pun cara tersebut jarang, dipakai. Kalau
dibandingkan dengan para röjö, di antara para kèjurön j a u h
lebih banyak lagi orang dewasa, yakni orang-orang Gayo terpelajar yang resminya
berada di bawah kekuasaannya, yang malah tidak tahu orang manakah yang sekarang
menjadi kèjurön mereka. Fungsi paling penting dalam praktik yang
disandang oleh kèjurön ialah fungsi kepala sukunya atau keturunannya
sendiri. Dalam hal itu pun setiap orang dengan senang hati memberikan
penghormatan yang tidak ada taranya kepadanya, yaitu hak berdasarkan keturunan
atas gelar dan senjata pusaka (bawar) yang pernah dianugerahkan
"oleh Kerajaan Aceh" . Hanya ada empat tokoh seperti itu di T a n a h
Gayo.
Sebaliknya, sejak
pihak Aceh menciptakan empat serangkai itu, telah timbul pemukiman - pemukiman
penduduk di T a n a h Gayo. Sejauh dibentuk oleh orang-orang yang termasuk
salah satu kèjurön, pemukiman itu merupakan tambahan lingkungan
kekuasaannya, meskipun letaknya di luar batas-batas wilayahnya. Misalnya,
kompleks Telong dan pemukiman yang terletak di hulu Semodom (Bidin) di samping
Tunjang, Jalung, dan sebagainya dimasukkan ke dalam daerah Buket karena
penduduknya berasal dari daerah Buket. Begitu pula yang termasuk Gayo Luos
adalah pemukiman - pemukiman di seberang perbatasan daerah aliran sungai T a n
a h Alas dengan perbatasan daerah aliran sungai Simpang K a n a n (Tampor) dan
sebagainya.
N a m u n , ada satu pemukiman yang
memperoleh kemandirian, meskipun tidak seberapa besar artinya, i) karena
dihidupi oleh berbagai sumber, 2) karena komunikasi antara sumber utamanya
(daerah Linggo) dan daerahnya sendiri terlalu sulit untuk melestarikan hubungan
- hubungannya . Pemukiman itu ialah Serbojadi, yang pada dasarnya dibuka oleh
orang-orang dari daerah Dorot (daerah Hulu Sungai J a m b o Aye), juga oleh
emigran-emigran dari daerah Laut T a w a r dan Gayo Luos. K
e t i ga kepala Kejurô n Abö k (sebenarnya Serbojadi), Pengulu Penarö n
(Bonen), dan Kèjurö n Tandel (Sembuang) tidak berada di bawah keempat kèjurön
itu. Sebaliknya, kèjurön pertama tadi sekali-sekali mengatasi kekuasaan
dua kèjurön lainnya.
Satu pemukiman lain,
yang sesudah pembentukan "si empat" itu baru berdiri,- lebih penting
artinya. Pembentukannya dilakukan oleh para emigran Batak, yang menurut tradisi
pada mulanya terdiri atas dua puluh tujuh keluarga kemudian memeluk agama Islam
dan menerima adat Gayo, sehingga mereka sekarang tidak dapat dibedakan lagi dari
orang Gayo lainnya. Sebaliknya, mereka dapat melestarikan kehadiran mereka
sendiri serta keterkaitan antara mereka sendiri sedemikian rupa, sehingga
sekarang di T a n a h Gayo tidak dapat ditemukan lagi kesatuan penduduk yang
lebih besar dan lebih menyatu secara menyeluruh dalam hal penduduknya . Kepala
mereka bernama Pengulu atau Röj o Cék; kampung induknya, bernama Bobasan,
menjadi pangkalan mereka untuk mengisi Pegaseng, Ketol, Woih-n Duren, Celala,
dan Beruksah atau Beresah. Kelima suku yang menjadi bagian-bagiannya, tak
kurang dibandingkan dengan yang lain-lainnya, pecah lagi menjadi
lingkungan-lingkungan kekuasaan yang lebih kecil (misalnya Munté menjadi M u n
t é Gayo, M u n t é Kala dan Munté Padang) . Pecahan - pecahan ini terbelah
lagi menjadi kesatuan-kesatuan yang lebih kecil, tetapi mereka boleh mengambil
istri dari pecahan kesatuan itu juga (jelasnya di luar suku mereka sendiri).
Dan mereka juga tidak memberikan anak-anak perempuan mereka kepada orang asing,
entah dengan maskawin biasa atau melalui perkawinan tanpa maskawin. Padahal,
hal itu biasa sekali terjadi pada tetangga mereka yang berada di bawah kesatuan
Bukét maupun pada orang Gayo lainnya. Sebaliknya, mereka juga memasukkan
orang-orang Gayo asing yang telah melepaskan ikatan suku aslinya agar dapat
dimasukkan ke dalam salah satu di antara lima suku, biasanya ke dalam suku
Ceberö , yaitu suku Röj ö Cék. Satu suku kecil yang seluruhnya secara mandiri
diterima masuk ke dalam ikatan ini adalah suku Kemili. Adapun pembentukannya,
menurut tradisi, dibantu oleh salah seorang mantan maharaja Lhok Seumawe yang
ketika itu ikut campur tangan dalam persengketaan suku Gayo. Pembentukan suku
kecil itu terjadi karena pengaruh maharaja tersebut. Sebagian dari salah satu
suku lain yang pindah dari Isak ke Lokop Pegaseng tetap mempunyai organisasi
sendiri. Akan tetapi, mereka berkerabat dengan keturunan - keturunan M u n t é
yang termasuk orang-orang R. Cék sendiri. Mereka disebut M u n t é Isak, Munté
Jalang, atau N a m Pulöh .
Para kepala tujuh
suku atau kepala penggalan-penggalan mandiri di dalam suku-suku itu semua
mengakui Röj ö Cék sebagai kepala mereka dan tidak mengakui orang lain. Karena
pengakuan itu tidak dipaksakan dari luar kepada mereka, melainkan berkembang
sendiri sehubungan dengan pembentukan pemukiman - pemukiman mereka, maka arti
pentingnya pun secara praktis melebihi kekuasaan para kèjurön atas
daerahnya masing-masing. J a d i , meskipun kekuasaan itu terletak pada
dasar-dasar yang lebih kukuh dan dijalankan terhadap massa yang lebih menyatu
dibandingkan dengan di tempat lain, Röj Ö Cék dari Bobasan tidak pernah berniat
menyelonong memasuki j a b a t a n seorang kèjurön yang telah merosot
atau m i n ta tempat
yang kelima di samping "si empat" itu tadi. Empat serangkai itu sudah
telanjur, menurut kesadaran orang Gayo, asal usulnya sama-sama menjadi bagian
dari negerinya, seperti keempat mata angin di dunia. Lagi pula R. Cék tidak
akan banyak memperoleh keuntungan seandainya ia memperoleh gelar kèjurön
itu. Namun, kekuasaannya sederajat dengan kèjurön-kéjurön tersebut dan
melebihi kebanyakan di antara mereka, karena harta miliknya serta jumlah
orang yang nyata - nyata mengikutinya.
J a d i , tampak
bahwa kekuasaan di T a n a h Gayo, karena terbagi pada banyak sekali kepala,
bersifat republik. Lagi pula tidak banyak atau sama sekali tidak ada
kesetiakawanan antara penghuni sedaerah, bahkan penghuni sekampung. Perang
biasanya dilangsungkan antara tetangga, tetapi
jarang atau tidak pernah antara orang yang tempat tinggalnya terpisah oleh
perbatasan utama di dalam daerah aliran sungai. Para kèjurön itu
bukanlah kepala daerah laras, dan tidak ada sangkut pautnya dengan pemerintahan
dan peradilan di luar suku mereka sendiri. Sebaliknya, mereka, asal kuat, dapat
berpengaruh sebagai wasit dan pendamai sengketa. Pengesahan mereka atas
pengangkatan röjö-röjö baru (pengulu) merupakan formalitas belaka.
Sekarang akan saya sebut beberapa
contoh yang banyak mengandung pelajaran mengenai bahaya yang menimpa seseorang
jika ia mengadakan hubungan yang dangkal. Bahaya itu berupa kekeliruan mengenai
arti penting tokoh-tokoh yang dihadapinya .
Pada bulan Juli 1901,
di antara orang-orang Gayo yang memberikan berbagai keterangan kepada saya di
Pantai Utara, terdapat seorang bernama Uang dari Pegaseng (kampung Kuto
Lintang) . Di antara pemberitahuan yang disampaikannya kepada saya ada juga
berita bahwa kampung Kemili (tidak j a u h dari tempat tinggal Uang itu
sendiri) berada di bawah kekuasaan maharaja Lhok Seumawe. Keterangan lebih
lanjut dari banyak sumber yang saling tidak berhubungan akhirnya membuktikan
pada saya bahwa satu tradisi yang tidak terlalu tepat di antara orang Gayo
telah menghubungkan terjadinya suku (atau keturunan) Kemili antara lain dengan
campur tangan seorang mantan maharaja Lhok Seumawe dalam perselisihan antara
orang Gayo sendiri. Namun, tidak pernah terjadi tindak kekuasaan maharaja
tersebut atas Kemili.
Adapun l i a n g itu adalah putra
mendiang imöm keturunan Munté Padang yang dinamakan Röj ö Imö m dan
menjadi terkenal karena ia telah membantu Kepala Daerah Sawang dalam perang
melawan Peusangan dengan ... mantra jampi! Ia juga sedikit banyak memainkan
peranan sebagai kepala bagi keturunannya, karena kepala yang sesungguhnya,
Pengulu Padang, yang dinamakan Genta, telah pindah ke Isak dalam keadaan miskin
dan tak berarti apa - apa .
Uang menyimpulkan
dari minat yang telah bangkit di pihak Kômpeun i terhadap T a n a h Gayo bahwa
agaknya satu serbuan pasukan-pasukan ke sana akan terjadi. Maka, ia minta
keterangan kepada pengikut saya, seorang Gayo, bagaimana orang sebaiknya
berlaku supaya terhindar dari gangguan . Pengikut saya itu menasihatinya agar
jangan melarikan diri bersama anak buahnya, sebaliknya melaporkan diri kepada
pihak Kômpeun i dengan membawa bendera putih. Ketika kemudian pasukan V a n Daalen datang ke daerah Laut Tawar, sedangkan
orang-orang Bobasan dan yang lainnya terjepit, Uang nyatanya telah
membesar-besarkan pergaulan dan pengaruhnya sendiri pada tuan - tuan Kömpeun i
kepada Röj ö Cék. Dalam hal-hal seperti itu seorang kepala tentu saja paling
senang menggunakan seorang perantara yang telah dikenal oleh pihak Kömpeuni ,
dan orang seperti itu dengan senang hati akan dianugerahinya pangkat - pangkat
yang sesuai, dan telah khusus disediakan untuk kesempatan tersebut. Itulah
sebabnya mengapa Uang dengan bersenjata bendera putih, yang notabene adalah
putra imbm salah satu di antara lima pemukiman di Kuto Lintang,
yakni salah satu dari suku-suku yang tinggal di salah satu di
antara tiga kampung di Pegaseng, datang melaporkan diri sebagai bödöl
(pengganti) bagi R. Cék, sekaligus sebagai imam seluruh kompleks
Pegaseng! Kemudian R. Cék pun diantarkannya kepada pasukan Van Daalen. O r a n
g itu pun dalam hal tertentu merupakan tokoh khusus dalam kesempatan tersebut.
Röj ö Cék dihormati di mana - mana; ia
sudah tua, terkenal, dan tegas. Sifat-sifatnya sedikit banyak diduga orang
menjadi sebab makmurnya penduduk dan tidak adanya perang di antara penduduk
sepanjang ingatan manusia. Ia telah meninggal kira-kira pada tahun 1899. ^ a
diganti oleh putranya, Röj ö M u d ö , tetapi tokoh ini, yang juga dipuji
orang, meninggal pada tahun 1900. Sekarang, di antara keturunannya yang
langsung tidak ada yang hidup lagi kecuali satu-satunya cucu R. Cék yang tua:
Bëdu l atau Röj ö Ucak [Ucak = Kucak, 'kecil'), begitulah ia dinamakan
orang. Ia seorang yang belum berpengalaman dan sangat ketagihan candu . O r a n
g tidak tergesa-gesa menobatkan tokoh seperti itu secara resmi menjadi kepala
suku Ceberö dan sekaligus sebagai ketua bagi semua persemakmuran yang ada dari
kampung induk Bobasan. Apalagi karena sejak tahun 1900 orang selalu menunggu
kedatangan Kömpeun i dan orang sibuk mengurus para kepala dan gerombolan suku Aceh
yang mengungsi ke T a n a h Gayo. Meskipun begitu, dalam keadaan normal, Bëdu l
= R. Ucak pasti akan menjadi R. Cék. Namun, orang tersebut oleh dirinya sendiri
dan oleh orang lain dinilai tidak cakap untuk mengurus hubungan mereka dengan
pihak Kömpeuni . Satu-satunya kerabat terdekat ialah Genap = Röj ö Bujang. Ia
telah banyak melakukan perjalanan dagang dengan membawa kerbau-kerbau ke daerah
Pantai Aceh pada masa mudanya . Maka, ia sedikit banyak memiliki pengetahuan
tentang dunia . Tokoh itu dengan persetujuan bulat telah ditampilkan ke muka,
meskipun ia berbeda dengan para pendahulunya yang lebih baik, akibat nafsunya
akan candu dan judi .
Pergantian kepala seperti
itu, dengan mempertimbangkan keadaan zaman yang telah berubah, sangat masuk
akal bagi kita. Sebab, tokoh baru itu bukan sekadar kepala semu yang
menggantikan seorang kepala yang sebenarnya dan yang memusuhi kita serta baru
menyingkir. Sebaliknya, ia adalah tokoh hasil pemilihan umum, sedangkan
khalayak ramai akan tetap berkerumun di bawahnya, setelah kini zaman Kömpeun i
mulai berlaku. Justru kita harus tahu siapa saja yang harus kita hadapi . Maka,
pada setiap pertemuan pertama dengan tokoh-tokoh yang bertindak sebagai kepala
terhadap kita hendaknya diadakan penyelidikan yang cermat: 1) Sejak kapan dan
dengan hak apa mereka berlaku seperti itu, apakah mereka diangkat
secara resmi menurut adat Gayo hingga mendapat pangkat yang sekarang; atau
mereka hanya termasuk kerabat terdekat dari seorang kepala yang telah
menyingkir atau telah meninggal; ataukah mereka sebenarnya hanya menjadi bödol.
2) Andaikan mereka bukan merupakan kepala-kepala yang sebenarnya menurut adat
yang umum, apakah para kepala yang sebenarnya ikut membantu untuk membebani
mereka dengan jabatan - jabatannya sekarang (dalam hal itu para kepala yang
sebenarnya harus dipanggil juga), ataukah juga mungkin mereka bersikap memusuhi
kita dan melarikan diri atau bersembunyi. Sementara itu, mereka yang menghadap
kita tidak boleh diakui sebagai roß, melainkan setinggi-tingginya
sebagai pejabat fungsional.
Salah seorang yang
lain pernah melaporkan diri kepada pasukan V a n Daalen sebagai " K e p a
l a Kenawat, Pengulu Suku" . Menurut pendapat orang Gayo tidak ada kepala
Kenawat tunggal, sebaliknya setiap keturunan yang menetap di sana, suku
dan gold, mempunyai pengulunya sendiri. Hal itu juga sudah dicantumkan
dalam nota saya, tetapi Mayor V a n Daaïe n di tempat itu mendapat kesan
seolah-olah suku dan gölö merupakan satu keturunan di bawah satu
kepala. Penyelidikan lebih lanjut, yang hasil akhirnya diperkuat oleh orangnya
sendiri yang telah melaporkan diri kepada pasukannya, telah memaparkan kepada
saya sebagai berikut.
Daerah Takengon
didiami oleh lima keturunan: 1. Pengulu Amal; 2. Imö m Bale; 3. Suku; 4. Gölö ;
5. Pengulu Akém. Memang, nomor 1 dan 2 merupakan lingkungan kekuasaan atau
keturunan yang termasuk pada satu suku. Nomor 3 dan 4 pun saling berhubungan
dengan cara yang sama. Nomor 5 berdiri sendiri. Semua penghuni Takengon
mempunyai sawah, kebun, dan lain-lain di Kenawat, jadi mempunyai pemondokan
sementara yang termasuk di situ juga. Adapun blah Suku dan Göl ö bahkan
menempatkan kebanyakan rumah mereka di pemukiman ini dan boleh dikatakan
tinggal di sini, meskipun mereka masih menganggap Takengon sebagai " k a m
p u n g " yang sebenarnya.
Adapun Calon Sultan,
sebelum kedatangan pasukan tersebut, telah lama tinggal di Takengon . Maka,
penduduk tempat itu, pada saat kedatangan pasukan kita, seluruhnya menyingkir
ke Kenawat yang memang sudah merupakan kampung kedua bagi mereka. Kemudian dari
sana mereka tidak kembali lagi ke Takengon karena mereka mendapatkan rumah -
rumah mereka rusak berat akibat penempatan pasukan kita di situ.
Kemudian ketika orang-orang Kenawat,
ditambah orang Takengon, sadar bahwa sebaiknya mereka melaporkan diri kepada
pihak Kömpeun i sekurang-kurangnya untuk menyelamatkan daerah Kenawat, maka
mereka mencari tokoh yang cakap untuk mewakili mereka semua. Tokoh itu mereka
temukan, yaitu Panglima Prang Amin dari keturunan Gölö , seorang yang sudah
banyak merantau . Ia pernah membawa sejumlah kuda ke Penang dan pernah sebagai
panglima perang (melawan Peusangan) mengabdi kepada Kepala Glumpang D u a dan
berbahasa Melayu dengan lancar. Ia hanya bersedia memikul tugas tersebut dengan
syarat bahwa orang akan mengakuinya sebagai kepala umum secara khidmat dengan
jalan mengadakan kenduri yang memerlukan korban seekor kerbau.
M e n u r u t pendapat orang Gayo hal
tersebut berarti membuat satu perjanjian yang mengikat secara luar biasa.
Setelah hal itu terjadi röjö yang baru diangkat kemarin itu melaporkan
diri kepada pasukan[3].
Dalam peristiwa itu pun tidak banyak kerugian yang diakibatkan oleh kesalah-p a
h a m a n tadi, karena para kepala yang sebenarnya itu tidak memusuhi kita d a
n tidak melarikan diri.
Yang lebih merugikan
ialah kesalahpahaman yang timbul sewaktu pasukan Colijn bermukim agak lama di
daerah Laut, meskipun pasukan tersebut memperoleh hubungan yang j a u h lebih
luas dan lebih akrab , dengan penduduk dibandingkan dengan para pendahulunya .
Untuk penjelasan perlu dikemukakan sebagai berikut. Di antara lebih kurang 25
keturunan yang termasuk daerah këjurön R. Buket, ada 3 keturunan yang
khusus tampil ke muka. Mereka itu bersama-sama termasuk dalam satu suku.
1.
Buket Mamat (menurut
n a m a j a b a t a n kepalanya) atau B. Lak (lah = tengah,
karena mereka tinggal di tengah-tengah daerah Kebajakan) . Keturunan ini dianggap
sebagai yang terkemuka karena hanya dari sinilah lahir semua këjurön.
Pada tahun 1901 meninggallah kepalanya yang juga bernama Mamat, yang disebut
juga Ama -n Sémijah. Ia meninggalkan seorang putra berumur lebih kurang 8
tahun, yaitu M a ' u n. J a d i , anak itu paling berhak untuk menggantikannya.
Sebagai wali putranya itu dapatlah dianggap pamannya, Ama - n Sri Kuala, yang
menjabat sebagai bödöl bagi mendiang M a m a t di Lindung Bulon. Sesudah
M a m a t meninggal, Ama - n Sri Kuala menikah dengan j a n d a Mamat, yaitu
ibunda M a ' u n. Wali kedua ialah seorang kerabat yang berpengaruh lainnya:
Bar, yang disebut juga Ama-n Cahyamani .
2.
Buket
Jaran (menurut n a m a j a b a t a n kepalanya)
atau B. Éwéh
(éwéh= tepi, karena mereka tinggal lebih dekat ke tepi kampung
Kebajakan) . Menurut beberapa orang, dahulu cabang inilah yang katanya
diangkat oleh Kerajaan Aceh dengan mendapat hadiah bawar (senjata golok yang
dihadiahkan dari Sultan Aceh). Akan tetapi, kemudian pada salah satu kesempatan
hak itu mereka serahkan kepada keturunan yang tersebut pertama tadi. O r a n g
lain menyangkal hal tersebut, tetapi sudah pasti bahwa para këjurön
sekarang berasal dari dinasti M a m a t = Lah. Keturunan Éwéh , sebaliknya,
kelak bertambah banyak dan bertambah kaya dan sering mengaku jabatan sebenarnya
adalah j a b a t a n këjurön. Beberapa suku paling senang minta tolong
kepada M a m a t bila mereka memerlukan këjurön, beberapa suku yang lain
lagi minta tolong kepada J a r a n . Kepala yang sekarang, yang nama dirinya
ialah Sagul, atau Ama-n-Usén, menyingkir bersama Calon Sultan, antara lain ke
Pameue. Beberapa tahun yang lalu ia mengunjungi kontrolir di Lhok Seumawe.
3. Gunong,
keturunan
yang agak kaya dan banyak warganya . Bertahun - tahun yang lalu
keturunan ini mempunyai kepala yang tegas, tetapi setelah ia meninggal
kedudukannya diganti oleh anaknya, Ama-n-M o g a, yang tidak
setegas ayahnya. Sebagai akibatnya yang wajar, maka ada kerabat lain yang lebih
tampil ke muka. Pertama - tama, saudara -saudara Ama-n - Moga; di antara
mereka, saudaranya yang bernama R a m b ö n g tidak seberapa penting artinya,
sebaliknya saudaranya yang bungsu Röj ö Kidol ( = kidal) agak tersohor juga .
Namun, saudara tersebut sudah lama meninggal. Pengaruh yang terbanyak
dipancarkan oleh seorang kerabat yang agak jauh, Tengku Malék, yang termasuk
kuat agamanya dan energik. Tokoh itu disebut juga dengan singkat Röj ö Gunbng .
Ia meninggal pada tahun 1901. Justru karena persentuhan dengan pihak Kömpeun i mulai
menguasai segala hubungan, maka kedudukan Tengku Malék diganti oleh orang yang
bernama Tadén. Derajat kekerabatannya terhadap orang yang lain-lain belum
seluruhnya menjadi jelas. Selama bertahun - tahun ia berdagang di Temiang dan
kawin di sana, dengan demikian ia belajar berbahasa Melayu secara lancar dan
belajar mudah bergaul dengan orang asing. Maka, beberapa waktu setelah
meninggalnya Tengku Malék, orang dengan senang hati menampilkannya ketika ia
kembali dari Temiang ke negerinya sendiri untuk mengail di dalam air keruh.
Sekarang ia juga minta disebut röjö muda' dan memperkenalkan diri kepada
Kapten Colijn sebagai Röj ö Gunbng. Akan tetapi, ia maju selangkah lagi dan
pura - pura menjadi tangan kanan kaum Buket, semacam menteri besar (padahal
tidak ada kerajaan m a u p u n pemerintahan u m u m semacam itu); pendeknya ia
berbuat seolah-olah merupakan tokoh yang paling berpengaruh di daerah itu.
Kembalinya penduduk yang telah melarikan diri itu tampaknya
memperkuat pengakuan hak yang kosong, karena kembalinya penduduk itu seolah-olah
berkat usahanya. Memang, orang-orang Gayo tidak dapat lama berada di
luar dan j a u h dari kampungnya karena sama sekali tidak ada ladang padi.
Maka, penghuni daerah Laut T a w a r mencari seseorang yang dapat membela
kepentingan semua orang terhadap Kömpeuni . Tokoh itu dapat mereka temukan,
tidak lain dari orang yang sudah setengah Melayu yang berasal dari keluarga
Gunbng . Justru karena itulah pada saat itu ia mempunyai pengaruh di
lingkungannya yang dalam keadaan normal belum pernah dijalankannya. Sangat
besar kesannya terhadap orang lain, sehingga Kapten Colijn bahkan tidak
memandang perlu meneliti hubungan yang sebenarnya antara keturunan - keturunan
Buket. Lalu T a d én menyalahgunakan kesan itu dengan menyampaikan banyak hal
yang tidak tepat mengenai kedudukannya sendiri dan kedudukan orang lain.
Keterangan - keterangan itu tidak dibantah oleh orang-orang yang kurang pandai
berbahasa Melayu atau sama sekali tidak menguasai bahasa itu. Sebabnya ialah
sudah tercapai tujuan pokok yang memerlukan kehadiran Tadén, yakni dibukanya
kesempatan untuk kembali ke kampung dengan tenteram.
Kemudian seorang lagi, yaitu Siah U t a
m a yang sial itu melaporkan diri kepada pasukan Colijn. Ia menyajikan
cerita-cerita tentang kekuasaannya yang dahulu atas daerah Serbojadi (dan Samar
Kilang), dongeng-dongeng yang tidak didukung oleh tradisi yang terpercaya.
Sebaliknya, seandainya cerita-cerita itu benar, akan sama juga artinya dengan,
misalnya, pemberitahuan Raja Spanyol yang sekarang kepada seorang
asing d a n Timur, dengan mengatakan bahwa negeri Belanda sebenarnya termasuk
daerah raja itu.
J a d i , tampak betapa berhati-hatinya
orang harus bersikap kalau ia bertemu dengan para kepala tersebut. Tentu saja
sama sekali tidak ada keberatan untuk menarik keuntungan dari pengetahuan
tentang dunia serta kecerdikan orang seperti Tadén dari keturunan Gunbng .
Sebaliknya, sejak semula orang harus menegaskan kepadanya agar ia jangan
menyelonong masuk ke dalam kedudukan orang lain. Sedangkan pernyataannya bahwa
keturunan - keturunan Buket semua t u n d u k , kepadanya hendaknya segera
diuji dengan cara sederhana tetapi mujarab: hendaknya ia dituntut supaya
menghadapkan kepada kita wakil-wakil dari keturunan - keturunan tersebut secara
pribadi. Kalau ia berbuat begitu, sedangkan wakil-wakil tersebut menyatakan
bahwa mereka sepenuhnya percaya kepadanya, maka ia dapat menjadi orang kita.
Akan tetapi, kalau tidak, ia semata-mata mewakili keturunan Gunbng yang
terkemuka dari kaya, tidak lebih dari itu. Bahkan, kedudukan itu pun tidak
ditempatinya seluruhnya, selama Ama - n - Moga dan kawan-kawan belum kita
dengar keterangannya.
Sejak pihak Kömpeun i sekali-sekali
muncul di T a n a h Gayo, maka dikatakan di sana, "Sekarang setiap orang
di antara kita yang dapat berbahasa Melayu dengan lancar menjadi röjö."
Ada gunanya bahwa orang Gayo yang dalam keadaan lain sama sekali terpencil,
sekarang berkat pertemuan berkali-kali dengan kita, terpaksa menuntut lebih
banyak dari kepala mereka daripada yang harus dipenuhi sebelumnya. Namun, tetap
perlu dianjurkan agar mereka berhati-hati supaya orang-orang, mentang - mentang
terbawa oleh ketakutan yang berlebih-lebihan akan sesuatu yang asing, jangan
lalu menyerahkan diri kepada sembarangan orang licik yang berbahasa Melayu. O r
a n g seperti itu tidak selalu merupakan unsur yang terbaik.
Sebagai
penunjuk jalan sementara, di sini saya tambahkan daftar kasar yang memuat
suku-suku terpenting yang terdapat di setiap daerah di antara delapan daerah
Gayo, serta memuat keturunan dengan kepalanya masing-masing[4].
Namun, sementara itu orang hendaknya selalu ingat bahwa bilamana satu keturunan
terwakili oleh 2 atau lebih banyak kampung, maka sering 2 atau lebih banyak
orang dihiasi dengan gelar röjö turun - temurun yang sama. Padahal,
hanya salah seorang di antara mereka yang merupakan röjö' yang benar,
sedangkan yang lain-lain secara teori menjadi bödöl.
I.
Daerah Laut Tawar dan daerah perluasannya (yaitu daerah aliran
Hulu Sungai Peusangan, Tunjang, Telong, serta daerah aliran Hulu Sungai Semodom
atau Bidin).
A.
Këjurön
(Röjö) Buket (Mamat)
Keturunan - keturunan
1.
Buket
Mamat (Lah);
2.
Bukét Jaran (Ewéh);
3.
Gunong;
Bersama-sama merupakan satu suku dan
bermukim di Kebajakan, yaitu kampung induknya, dan di sebagian besar kampung di
sekitar dan di dekat Laut T a w a r yang penduduknya berasal dari sana,
terutama Toweran, Rawe, Lindung Bulon, Bintang, Dedamar; keturunan Gunung juga
termasuk Tretet (Telong), kepalanya bernama Röjö Angen. Warga Buket juga
terdapat di Tembolon, Rusep, Tunjang, Jalong . Dalam keturunan nomor 3 terdapat
penggalan yang memisahkan diri dari keturunan Suku (dari Kenawat) yang
melebur ke situ, sehingga orang-orang itu, yang tinggal di Toweran dan Rawe,
sekarang tidak boleh kawin dengan warga Gunung, sebaliknya boleh kawin
dengan kerabatnya yang dahulu, yaitu Suku dan Gölö ' dari Kenawat .
Keturunan - keturunan
5.
Cék Kuala;
6.
Pengulu Muda;
7.
Pengulu
Jalél;
8.
Pengulu Sagi (di
Bintang, disebut Wakél) juga merupakan satu suku dan tinggal
terutama di Kebajakan dan Bintang, suku yang tersebar di seluruh T a n a h
Gayo;
9.
Lot (di Kebajakan di
bawah Pengulu Lbt; namun sekarang jabatannya dipangku oleh Röj ö K a r a n g
Ampar di Tingkom), yang di sini diwakili di Kebajakan dan Tingkom (Telong)[6]
", di Bintang membentuk keturunan tersendiri lagi; dan
10.
Pengulu Serampak[7]
Keturunan itu dianggap sebagai
kerabat warga-warga Isak serta warga suku M u n t é dari Röj ö Cék; dan
kemudian
11. Keturunan
yang menyingkir ke sana dari Tenambak (Dorot), yaitu Pengulu atau Teungku Akem,
bermukim di Bintang, Nosar, Takengon, dan sebagainya, kedua-duanya dianggap
berkerabat dengan seluruh suku Cék Kuala; agaknya merupakan kekerabatan buatan
.
Keturunan - keturunan
12.
Mëlu'ôm;
13.
Bujang;
14.
Timbangan;
15.
Baten merupakan
satu suku lagi. Di samping terdapat di kampung induknya, semuanya itu
juga ditemukan di Aser-Aser, selanjutnya di Kanes, Kloang, dan Arul Puteh. Yang
dianggap satu kerabat dengannya ialah pemukiman kecil,
16. Cék
Serulö , sukunya berasal dari Serulö (Dorot), tetapi di sini diwakili oleh satu
rumah yang terdiri atas para pengungsi. Serulö , dalam hal ini melebihi
suku-suku lain dari Dorot, selalu mempunyai hubungan khusus
berupa persahabatan atau permusuhan dengan suku-suku daerah Laut Tawar .
Selain keturunan -
keturunan yang telah dibahas tadi,
17.
Imöm Bale
dan
18.
Pengulu Amal
(Takengon, sekarang juga Kenawat dan Nosar) merupakan satu suku. Hal itu juga
berlaku bagi kesatuan yang telah dibicarakan pula,
19.
Suku dan
20.
Gölö, di tempat kediaman
yang sama.
Yang berdiri sendiri ialah
21.
Owak, sebuah pemukiman yang penduduknya
terdiri atas para pengungsi dari kampung yang namanya sama dengan nama sukunya
(Dorot) di bawah Röj Ö Gegarang, di Toweran dan Kala Bintang.
Demikian pula
22.
Pengulu Ketöl
di Redelong, yang keturunannya diangkat sebagai yang berasal dari luar, dan
23.
Pengulu Möngkör,
yaitu para pengungsi dari daerah Dorot, yang menetap di Rusep .
J a d i , ada lebih kurang 22
keturunan, yang merupakan 8 suku dari 11 suku, jika keturunan - keturunan yang
berasal dari luar tidak seluruhnya hendak dipandang sebagai suku-suku yang
telah diterima masuk di daerah Laut T a w a r . J u m l a h röjö lebih
besar daripada jumlah keturunan, disebabkan oleh kecenderungan memecahkan diri
yang telah ditegaskan tadi.
B.
Këjurön
Siah Utama
Di antara empat keturunan yang diwakili
di dalam satu-satunya kampung, yakni Nosar, termasuk 2 keturunan (Imö m Bale
dan Tengku atau Pengulu Akém) yang telah disebut tadi. Yang tidak berada di
bawahnya yaitu keturunan ketiga: Pengulu Bëndö, sebuah pemukiman kecil
yang penduduknya terdiri atas para pengungsi dari daerah Dorot; akhirnya
keturunan Siah Utama sendiri yang selebihnya tersebar di
pemukiman-pemukiman kecil di Samar Kilang (Ujong Sere), Serbojadi (Terujak), di
mana telah mereka lepaskan ikatan kesukuan mereka, serta Gayo Luos (Bondor
Klipah, Rumpi), tempat mereka sebagian berada di bawah kekuasaan Rema, sebagian
di bawah kekuasaan Padang .
C.
Pengulu
atau Röjö Cék
Suku Cebero, yang kepalanya
adalah Pengulu Cék sendiri, selain di kampung induk Bobasan, juga tinggal di
kebanyakan kampung yang berada di bawah kekuasaan R. Cék. Biasanya mereka yang
tinggal j a u h dari kampung induk berada di bawah para bodol R. Cék,
sedangkan beberapa di antaranya, seperti Pengulu Kebö t (Bobasan dan Celala),
Röj ö Cut (Kong), telah menjadi rÖjö-röjÖ yang agak mandiri.
Para pengungsi dari Serulo yang tinggal
di Sarel (Bale), konon, sekarang telah diterima masuk ke dalam suku Ceberö .
Suku Mëlala terbentuk dari
keturunan Röj Ö Gëmber a dan Pengulu Sagi di Bobasan, sedangkan di Biang Golo
suku" tersebut terbentuk dari Röj ö Guru; di samping itu terdapat juga
warga-warga suku tersebut di Lokop dan Kong (Pegaseng), Rote, Pepayongon,
Celala (Umah Paloh).
Suku Tëbö terutama terdiri atas
keturunan - keturunan Röj ö Gëgaran g dan Röj ö Angen dan, di samping tinggal
di Bobasan juga di Pegaseng (Kuto Lintang dan Kong), juga di Pelonden, Ketol
(Genteng dan S e r e m p a h ) . Adapun hubungan keturunan
Balöho n dengan suku Tebo masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Suku Lingga terbentuk dari
keturunan - keturunan Pengulu Linggö , Rojo Keumala, Röj ö Kaya dan tinggal di
Bobasan, Oneng - n Ikon, Pegaseng, (K. Lintang), Woih-n Duren, Ketol (Kuto
Glimo, Serempah) . Apakah keturunan Pengulu Gadeng, terutama yang tinggal di
Celala (Umah Bur) dan Ketol juga termasuk Linggö , masih perlu diteliti lebih
lanjut.
Suku Muntê mempunyai banyak
keturunan yang semuanya diwakili di Bobasan. Suku tersebut, sebagaimana telah
kita lihat, pada umumnya dianggap sebagai kerabat orang-orang Isak (daerah
Dorot) dan dengan wali Lot yang tersebar di mana - mana . Beberapa keturunan
yang terkemuka ialah
1. Munté
Padang, kepalanya, Pengulu Padang (sebenarnya Uang, anak mantan imöm
pemangku j a b a t a n itu), tinggal di Bobasan, Pegaseng (Kuto Lintang dan
Kong), Brawang Munte, Woih-n Duren, Ketol (Bah Ukon, Cicang Meduri) .
2. Yang
dapat dianggap sebagai keturunan yang hampir terpisah darinya ialah 2) Bentara
Biang Beruksah atau Bërësah , yang ayahnya, dengan bertolak dari Bah Ukon,
menetap di Bêruksah;
3. Munté
Gayo di bawah Pengulu Gayo, di Bobasan, Biang Gölö , Pegaseng (Kuto Lintang),
Woih-n Duren;
4. Munté
Kala di bawah Pengulu Kala menetap di Bobasan, Pegaseng (Kuto Lintang), Celala
(Umah Bur), Ketol (Bah Toa, bödö l Pengulu Kampung);
5. Göl
ö di bawah Pengulu Göl ö di Pegaseng (Kuto Lintang) di Biang Göl ö Ujong
(tempat mereka juga bernama Blah Ujong) dan Ketol (KUUD
Glimo). Sebagai kerabat orang Munté adalah 6) Nam Pulö h atau Munté Isak, di
Pegaseng (Lokop) dan beberapa pemukiman lain, di bawah Pengulu Mudö .
Suku keenam, yang berbeda asalnya dan
kelak masuk ke dalam ikatan R. Cék, ialah suku Kemili di bawah Pengulu
Kemili, terutama terdapat di kampung yang namanya sama dengan nama sukunya,
tetapi juga di Pegaseng (Paya J a g a t ) .
II.
Daerah
Dorot[8], yaitu daerah aliran
Hulu Sungai Jemer (Jambo Aye), kecuali Hulu Sungai Semodom (Bidin).
Suku yang terbesar jumlah warganya
ialah suku urang Isak, yang seperti kita lihat berkerabat dengan suku
Munté dari Bobasan dan sebagainya, dan dengan wali Lot yang tersebar kemana -
mana . Mereka mendiami kompleks kampung Isak dengan dukuh - dukuh yang termasuk
di dalamnya, serta terbagi atas 5 keturunan di bawah kepalanya masing-masing.
1) Pengulu Cék Dah
(penyandang gelar yang sekarang berumur sekitar 50 tahun, yang berkali-kali
telah pergi ke Pantai Utara dan Barat, oleh pasukan-pasukan kita dengan salah
dianggap sebagai kepala seluruh urang Isak) di Dah .
2) Tiö Mudö (penyandang gelar
yang sekarang adalah seorang muda yang terkenal di daerah pantai),
semula menjadi mudö bagi P.C. Dah, tetapi sekarang sedikit banyak telah
menjadi suku tersendiri, karena perkawinan antara keturunan nomor 1 dan 2 telah
diperkenankan. Mereka tinggal di Krambel Paloh dan Paya J a g a t (Isak).
3) Pengulu Gadéng (penyandang gelar
yang sekarang masih muda dan telah banyak bepergian). Setelah terjadi
perselisihan, ia dipisahkan dari keturunan Cék Dah yang tinggal di Robel,
tetapi sekarang ia telah menyingkir ke Dah .
4) Kepala Akal (Pelakal, penyandang
gelar yang sekarang berumur lebih kurang 50 tahun, belum pernah pergi ke
pantai, dan tidak terpelajar) di Kuto Kreng; keturunan ini dianggap sebagai
keturunan tertua.
5) Pengulu MudÖ (sudah agak tua, di
Pase ia menikah dan karena itu disebut P .M. Pase), cabang keturunan
yang muda . Hubungannya dengan keturunan nomor 4 sebagai mudo terhadap cék,
di Kuto Rayang .
" B
a n t a " n y a sejak beberapa waktu ini ialah Pengulu Baten, kepala
orang-orang yang tak puas yang menyingkir ke Loyang Ukon, tetapi baru saja
damai dan kembali ke Rayang . Penduduk asing ialah orang-orang yang mengungsi
dari Bondor Klipah ke Paya Dalu, di bawah Pengulu Sëkuölön yang di sini
pun membentuk suku tersendiri.
Selanjutnya, di
daerah miskin itu tinggal banyak suku kecil yang tidak dibagi-bagi lagi menjadi
beberapa keturunan . Kebanyakan di antara mereka hanya menempati satu kediaman
(kecuali pedosbnön dan perwbrön), dan dari banyak suku itu
terdapat pengungsi-pengungsi di daerah tempat-tempat lain, seperti Laut T a w a
r (Serulo, Tengku Akem, Bendo dan sebagainya) dan Serbojadi (Penaron, Lande,
Bugak, Oneng, dan sebagainya). Adapun nama suku-suku kecil sering sama dengan
tempat kediamannya. Suku Pengulu atau Tengku Akém berasal dari
Tenambak, tetapi sekarang sudah menyingkir ke Loyang T o a (tak mempunyai
kepala sendiri, sebaliknya tetap berada di bawah kepala Tenambak), dan
sebagian, sebagaimana jelas pada kita, telah menyingkir ke Laut T a w a r
(Takengon dan Bintang, yang di tempat itu keturunan - keturunan tersebut
mempunyai kepala sendiri). Suku Pengulu Bedak tinggal di Tenambak dan di
Bongkok, dan sebagian menyingkir ke daerah sekitar Tembolon (Hulu Sungai
Semodom). Pengulu Buket adalah suku yang baru dibentuk, terdiri atas
pengungsi dari Tembolon yang diam di Genteng. Suku Pengulu Gewat
mendiami kampung yang namanya sama dengan nama sukunya. Suku Röjö Klapéng
tinggal di kampung Ujong Brangen. Suku M u d ö Möngkör[10]
tinggal di Möngkör . Pengulu Akém, satu suku anggotanya sebanyak
satu rumah, tinggal di Nalon, seperti juga suku kecil Kéjuron Bintang
dan suku Tiö Gunbng yang kaya itu. Lebih tepat mereka
pernah tinggal di sana, sebab sesudah dikunjungi oleh pasukan-pasukan
kita, Nalon tetap kosong. Duren, Pelelasan, dan Nyerang di sini termasuk suatu
dukuh . Di Oneng tinggallah suku tersendiri di bawah Pengulu Onéng (pada
saat ini jabatan itu lowong) yang juga diwakili di Samar Kilang di kampung Kerelang
(dan selanjutnya di Serbojadi). Lenang dan Sosot merupakan dukuh - dukuh suku
itu.
Suku Kong[11]
(nama kampung) berada di bawah Pengulu Cék Bantu. Sebagian suku Cék Kuala (Laut
Tawar) dikepalai oleh Röj ö Mambul, tinggal di Penaron[12],
seperti juga sebagian suku Benda yang tidak menyingkir ke Nosar.
U m a n g adalah dukuh kampung Penaron.
Di Penaron pernah tinggal pula suku kecil Pengulu Nawar yang sejak itu
pindah ke Serulo. Di sini dan di Panu terdapat kedudukan suku Pengulu Cek Serulo.
Sebagian dari suku itu pindah ke Kebajakan, sebagian lagi ke Rerobo Toa (Gayo
Luos), lainnya ke Tampor, Pendeng, Oreng, dan dari Oreng sebagian lagi beranjak
ke Paya J a g a t (Pegaseng); di tempat itu mereka diterima masuk ke dalam suku
besar Ceberö . Suku Pengulu Kërêlang tidak lagi tinggal di kampung yang
telah kosong, yang namanya sama dengan nama sukunya, melainkan di Samar Kilang,
sedangkan nama kampung yang dahulu mereka pindahkan ke sana. Adapun suku Öwak,
yang dahulu berada di kampung yang namanya sama dengan n a m a sukunya,
seluruhnya tiba di Laut Tawar, seperti yang tampak kepada kita. Suku Lande,
yang dahulu bertempat di kampung yang senama dengan sukunya yang sudah
ditinggalkan sekarang, dengan sumber garamnya, sekarang' sebagian tinggal di
kampung Lande yang lebih baru di Samar Kilang, sebagian lagi di Sembuang
(Serbojadi). Di kampung lain, di Samar Kilang (Kuto Tanjong), tiba sebagian
dari suku Pengulu Gërëpa yang sekarang telah pindah dari kampung yang
kosong yang senama dengan sukunya. Di sini kepalanya bernama Röjö Bintang.
Kepala bagian lain di dalam suku yang sekarang mendiami daerah Doson (Sekindol)
tetap melestarikan gelar Pengulu Gërëpa .
Lömö t adalah nama sukunya, sedangkan Kaya Lömö t adalah
nama kepala penduduk yang berdiam di anak sungai yang juga sama namanya[13]
yang sebagian telah beremigrasi ke Kong dan sebagian lagi di Gayo Luos. Suku
lama, Linggö , sebagaimana telah kita ketahui, telah pecah menjadi d u a suku
lagi; yang satu adalah suku Kéjuron, yang tinggal di tepi kanan Sungai
Linggo dan terbagi menjadi dua keturunan: blah Röj ö (Këjurön ) dan blah
Gadéng. Suku lainnya ialah suku Këjurön Mudö di tepi kiri Sungai Linggo.
J u g a di Doson (Jamat dan Delong) berdiam orang-orang suku Linggö , sedangkan
di Delong mereka berada di bawah seorang pengulunya sendiri. Suku Übt,
baik di Linggo maupun di Doson (kampung Repet) diwakili
juga . Pengulu Pértékbersama dengan sisa-sisa sukunya tinggal di kampung
yang senama dengan sukunya di tepi Sungai Doson. Di Niwor dan J a r u l
(Doson), dan selanjutnya di kampung Pengulu Payön g di Samar Kilang, menetap
suku Pengulu Payöng. Sebuah suku tersendiri telah dibentuk oleh penduduk
Kuto Lah (Samar Kilang) dan di Ujohg Sere (Samar Kilang) tinggallah
keturunan kecil dari suku Siah Utama.
J a d i , ada lebih kurang 25 suku, 8
di antaranya juga mempunyai pemukiman di daerah Laut Tawar, sedangkan 4 lagi
bermukim di daerah-daerah lain pula. Suku-suku itu dibagi dalam lebih kurang 30
keturunan dengan kepalanya masing-masing, meskipun pada umumnya penduduk di
sini jarang .
III.
Gayo
Luos
atau Gayo Tanyo, yaitu daerah aliran Hulu Sungai Tripo dengan beberapa
pemukiman di tepi Sungai T a m p o r dan di daerah aliran Sungai Alas.
Di daerah ini selalu harus
diingat bahwa:
1) Kebanyakan suku atau
keturunan yang agak penting artinya terbagi atas dua belah suku di bawah
seorang cék dan seorang muda;
2) Kebanyakan suku atau
keturunan, baik yang masih tunggal m a u p u n yang telah pecah menurut cara
yang telah disebutkan tadi, mengakui suku atau keturunan yang lebih besar
sebagai ceknya, {bercek ku.... 'mengatakan cék kepada' ... );
3) H u b u n g a n yang
tersebut terakhir itu tidak selalu berkaitan dengan soal kekerabatan darah,
melainkan lebih berkaitan dengan letak yang dekat dan kepentingan bersama.
4) Sangat banyak suku
mempunyai nama yang sama dengan tempat tinggalnya.
Bila
di bawah ini ditulis c dan m di samping nama suku atau keturunan,
maka suku tersebut telah pecah menurut cara yang dimaksud pada sub 1); kalau
tidak, hal itu tidak terjadi.
Gold' (c dan m) dan Porang (c dan m)merupakan
satu suku.
Keturunan Göl ö menjadi cék di Porang dan selain itu
menjadi cék bagi suku-suku L e m p ö h[15]
dan Kuto Sere, yang sukunya tidak berkerabat dengan mereka dan tidak
berkerabat pula satu dengan yang lain. T a m b a h a n pula, Göl ö yang, konon,
menjadi cékbagi keturunan Penggalangan, yang termasuk dalam
kekerabatan suku yang berlainan sama sekali, sebaliknya tinggal j a u h dari
para kerabatnya. Baru-baru ini suku Penggalangan semakin membebaskan
diri dari Gölö .
P e n a m p a k an adalah tempat
tinggal suku Petiambang atau Kêjuron (c dan m) . Suku Kejurö n
Dagang[16] tinggal
di Abbacang.
Adapun suku Kutb' Lintang (di
kampung yang namanya sama dengan nama sukunya dan Duren, Röj ö Silo, Kutö
Biang) dahulu menjadi cék atas suku-suku Lembé dan Badak
(juga di Panggor) yang juga tidak saling berkerabat satu dengan yang lain.
Sekarang, suku Lembé dan Badak mengakui kesatuan Buket yang lebih berkuasa
sebagai cék. Bobo, suku yang dahulu dianggap sebagai cék atas
Kuto Lintang, sudah bubar sama sekali. Orang - orang dari Oreng, yang di
sini dianggap sebagai orang asing (lihat di bawah Serulo, Dorot) dan mempunyai
kepala suku sendiri, mengakui Buket sebagai cék seperti juga orang-orang
sesuku yang diam di Pendeng.
Kekerabatan suku orang-orang Gayo yang
menetap di Tampor, yang semuanya datang dari Gayo Luos dan berada di bawah
seorang kepalanya sendiri, Nyak Uroi, dengan gelar Kecik Tampör , belum
sepenuhnya dapat dijelaskan.
Keturunan terkemuka Réma
(c dan m) merupakan satu suku dengan keturunan Tampeng dan keturunan Brandang[17]
Keduanya mengakui Rema sebagai cék.
Hal itu juga dilakukan oleh keturunan - keturunan lain yang asing bagi mereka :
suku Kêjuronatas Bender Klipah, sebenarnya sebagian termasuk suku
Siah Utama, yang satu penggalannya telah pindah dari sini ke Paya Dalu (lihat
atas). Sementara itu sebuah pemukiman lain di Rumpi (daerah Padang) dan yang
mengakui cék di Padang sebagai cêknya; Rékét Dekat di sini
tinggal j a u h dari kerabat sukunya yang akan dibicarakan nanti
(Tunggol, Lempelam, dan sebagainya); Kong, yaitu para emigran dari Lomot
(lihat atas), sedangkan satu pemukiman dari mereka itu pindah lagi ke daerah
Padang (Umah Tunggol dan Kuto Sangge) yang melestarikan ikatan kesukuan yang
lama, tetapi mengakui Padang sebagai ceknya. Pengungsi-pengungsi dari
Kong dan dari Cike, Gegarang, Koneng, Paser, dan Rerobo ketika itu
menetap di Hulu Sungai Tripa . Di situ nama Kong masih mengingatkan kepada
mereka.
Pênosan[18] (c
dan m) dan Paser (c dan m)
merupakan satu suku, tetapi rupanya cenderung untuk memutuskan ikatan tersebut
untuk memungkinkan menikah satu dengan yang lain. Tidak ada hubungan cék
antara keduanya. Rerè'bö, yang akan disebut nanti, berada di bawah Paser.
K
a t a orang, Pêparêk yang dahulu (c
dan m; keturunannya tinggal di P. Dekat
dan P. Goip) adalah cék di Penosan.
Sekarang dikatakan ada persekutuan segi
tiga; Penosan, Pëparék dan Gêgarang.Suku yang disebut terakhir, yang
tinggal dekat Peparék Dekat, mengakui Péparék sebagai ceknya,
sementara Gegarang sendiri juga menjadi cékatas keturunan Kut'ô
Ujong. Suku yang mencakupi 3 keturunan y
a ng
tersebut
terakhir itu, selanjutnya meliputi juga keturunan: Remokot (yang tinggal
juga di K u t o Tinggi), LémpélamJabe[19],
Padang[20]
(c dan m , yang juga tinggal di Lempelam Pinang, Oneng, dan sebagainya). Namun,
ketiganya tidak ada yang mempunyai hubungan cék dengan pihak lain,
sementara kesatuan Penggalangan, yang sudah dibahas tadi, sebagai
wilayah yang berada di bawah GÖ1Ö .
Selanjutnya larangan perkawinan dengan
semua kesatuan itu juga berlaku untuk Trangôn (di bawah kepalanya
sendiri, yaitu Röj ö Pödöng) . Akan tetapi, konon, keturunan ini dicangkokkan
kepada suku tersebut d a n tidak merupakan tunasnya. Secara politik kesatuan Trangô
n Wökö s (bahasa Aceh wakeuëh), adalah mandiri.
Kesatuan-kesukuan - yang dianggap
sebagai bagian yang tertua sekaligus sebagai ceknya ialah Cane
(terbagi atas Hulu Sungai Cane d a n Hilir Sungai Cane, Cane Ukon dan Cane
Toa), dengan Röj ö atau Pengulu Kemala sebagai kepala - disebut juga anak
sipitu "anak tujuh orang" . Selain dua Cane tadi di situ termasuk
juga Ampa Kolak, Koneng (yang sekali-sekali berperang dengan ceknya,
tetapi pada umumnya orang di situ cenderung untuk melepaskan diri dari keturunan
Cane, supaya perkawinan di antara mereka dibolehkan), Söndörö n (sebetulnya
bukan keturunan, sebab di kampung yang senama dengan sukunya sekarang tinggal
orang-orang dari Koneng dan dari Cane), Kopor, dan Manggang
(keduanya termasuk Koneng) .
Yang merupakan
kesatuan yang lain lagi ialah " a n a k enam o r a n g " atau anak
si bnbm dengan Lempelam (c d a n m) sebagai kepalanya, selanjutnya Tunggol
(dengan Dah dan U r a n g kaya) di bawah Pengulu Mudö , Kutö Dalu (tak
mempunyai kepala sendiri), Pinang Rbgbp (tak mempunyai kepala sendiri), Kendawi
(dengan röjö sendiri). Empat kesatuan yang tersebut terakhir mengakui
Lempelam sebagai cék, sementara yang keenam, yaitu RêkétDékat,
yang telah disebut tadi, meskipun termasuk suku yang sama, karena jaraknya yang
j a u h , berada di bawah cék lain (Rema) . Dalam arti setempat, 5
kesatuan yang tersebut pertama tadi tercakup di bawah nama Rêkétatau RêkétGöip[21],
tetapi orang-orang yang tinggal lebih jauh, bahkan memasukkan Cane dan
sebagainya di bawah n a m a itu juga . T e r u t a m a orang-orang daerah Rêkét
(Göip ) itulah, termasuk suku Cane, yang telah memerangi pasukan Colijn di Bur
Intem-intem.
Reröb ö T o a[22] adalah nama satu cabang yang tersesat dari
suku Serulö (yang sekaligus juga mengisi Kloang, Kla Woih, Rioh, dan Setul). T
a n p a kerabat sedarah di sekitar situ, Reröb ö T o a mengakui Paser sebagai
c/Anya.
J a d i , seluruhnya
lebih kurang 18 suku yang terbagi atas lebih kurang 33 keturunan (sedangkan
kesatuan-kesatuan yang terbelah menjadi cék dan mudö juga
dihitung sebagai kesatuan) di bawah kepalanya masing-masing.
J i ka para
mudo dan röjó' pada beberapa suku yang tersebar itu dihitung
tersendiri, semuanya lebih kurang 45 keturunan .
IV. Serbojadi, Bonen, dan Sembuang, yaitu daerah
aliran Hulu Sungai Jerneh (Simpang Kanan) dan daerah aliran Sungai Bonen dan
Sembùang (Hulu Sungai Peureulak).
Yang termasuk suku KêjuronAbök
yang berkedudukan utama di Lokop dan K u t o Tareng, dan disebut juga U r a n g
Serbojadi dalam arti yang lebih sempit, termasuk juga ke dalam keturunan Röjö
Banta (di Ujong Karang) dan keturunan Panglima Cékserta Wakélnya
(di Tualang) . Selanjutnya yang diterima masuk ke dalamnya adalah orang-orang
dari Pengulu Gere'pa, berasal dari daerah Dorot (di Leles yang juga
disebut kampung Gerepa), emigran-emigran yang berasal dari Nosar yang tinggal
bersama keturunan Mudêm di Terujak, orang-orang dari Pengulu NaTon, sebagian
di bawah Wakil Nalön, di pemukiman yang disebut menurut namanya sendiri.
K a m p u n g Jerneh - di bawah
pengulunya juga terhimpun banyak pemukiman kecil yang terbentang mudik dari
sana sampai ke Ujong K a r a n g (Bedari di bawah Tandél Salèh, R a n t o
Panjang, K u m b o r di bawah Ama-n Srimani, Gegari di bawah Ama-n-Sri Kuala) -
sebagian besar diisi oleh orang-orang dari Serbojadi asli. Di situ termasuk
juga Pengulu Kandang, seorang keturunan orang keramat setempat.
Sebaliknya, di situ tinggal juga orang Gayo dari daerah - daerah lain,
di samping orang Temiang .
Yang secara keturunan tetap mandiri
ialah orang-orang yang tinggal di Lanteng (kampung Sekuolon) dari Pengulu
Sekuölö'n[24]
yang berasal dari Gayo Luos;
orang-orang dari Pengulu Önéng di kampung yang disebut menurut nama
mereka; Urang Tönggo, di dalam satu rumah (Umah duöpulöh tönggö)
di pemukiman yang sama seperti Nalon dan Oneng . K a t a orang mereka
adalah orang Aceh dari Peureulak yang menjadi orang Gayo; orang-orang dari Bugok,
yang berasal dari kampung yang namanya sama dengan nama mereka, di daerah
Dorot. Kemudian juga orang Lö t yang telah kita kenal dari tempat lain (seperti
di Bintang, di tepi Laut Tawar) yang berada di bawah seorang yang bernama
Pengulu Sérampak. Selanjutnya di sana, yaitu di Serbojadi asli, di daerah
Jereng berdiam juga orang-orang dari Penaron yang telah pindah dari daerah
Bonen, dan di sini mereka juga mempunyai Pengulu Pênarön sendiri.
Sebagian besar penduduk berasal dari
Penaron (daerah Dorot; lihat di atas); sejauh mereka tidak pindah ke Serbojadi
asli (Jereng), penduduk itu tinggal di R a m p a h (di bawah pengulu itu
sendiri), Selemak (di bawah Ama - n Saleh), Bonen (tempat imömnya, Ama -
n Sejök , yang sedikit banyak menjabat sebagai kepala suku tersebut),
Arul-Seke,dan Kemuneng . Selanjutnya terdapat juga para imigran dari keturunan Canè
dari Gayo Luos di sebuah kampung yang namanya sama dengan nama keturunannya, di
sebuah rumah Meluom (Kebajakan) di bawah pengulunya sendiri, d a n di
Selemak tinggallah beberapa orang dari Isak yang secara keturunan tetap
mandiri.
Penduduknya terdiri atas orang Lande.
Mereka pindah dari kampung yang namanya sama dengan nama sukunya yang
ditinggalkan di daerah Dorot. Mereka tinggal di Sembùang (di bawah kêjuron),
di Meser (di bawah seorang tua), Diom, dan Biang atau Barang Karang .
Di seluruh daerah F, G dan H yang dirangkum
di bawah nama Serbojadi, pada pokoknya terdapat 3 suku dan lebih kurang 6
paguyuban, berupa imigran-imigran yang menyusul dan secara keturunan tetap
mandiri.
Kutaraja, 20 November 1902
K e hadapan Yang Mulia Gubernur Sipil
dan Militer di Aceh dan Daerah Taklukannya
Nota mengenai Ama - n - Ratus
Adapun data yang
telah disampaikan kepada saya oleh Ama - n - Ratus, sejauh data itu bersifat
umum, akan berguna untuk melengkapi telaah saya mengenai T a n a h Gayo. Maka,
berdasarkan keterangan itu, saya akan segera mengadakan beberapa perubahan dan
pelengkapan nota saya yang dahulu berisi beberapa petunjuk dan sebagainya,
tertanggal 9 November 1902. Di sini saya hanya menyusulkan beberapa soal yang
bersifat lebih khusus atau aktual.
M a h m u t , disebut
juga Ama - n - Ratus, termasuk keturunan yang lebih m u d a di antara dua
cabang keluarga yang biasanya menjadi sumber bagi pemilihan para kêjuron
Gayo Luos. Saudara lelaki kakeknya serta duas a u d a ra sepupunya
termasuk sembilan orang yang dalam lebih kurang 40 tahun terakhir silih
berganti diangkat untuk memangku j a b a t a n tersebut.
O r a n g yang paling
akhir (Maret 1902) diangkat menjadi kêjuron, sesudah j a b a t a n itu
selama 2 tahun tetap lowong, ialah Bédén,yaitu anak lelaki Nyak Sara yang
masih m u d a dan belum beristri dan juga pernah menjadi kêjuronbeberapa
lama. Ayahnya, yang termasuk cabang keturunan yang lebih tua dalam keluarga
itu, biasanya tinggal di T a m p o r atau di Temiang . Di situ ia telah menikah
dengan anak perempuan Pengulu Kuala di Semacun. Istrinya adalah ibu Bédén. J a
d i , Ama - n - Ratus termasuk kaum kerabat yang lebih tua dari kêjuronyang
sedikit banyak mewakili urusan seorang kêjuronyang masih muda .
Ketika Calon Sultan
pada tahun 1901 menetap di Takengon, secara tertulis beliau memanggil semua kêjuronserta
kepala-kepala lain di antara orang Gayo. Yang dekat tempat tinggalnya memenuhi
panggilan tersebut. Di Gayo Luos orang menunggu, apakah calon sultan itu akan
lama tinggal di T a n a h Gayo dan apakah beliau akan mendekati juga daerah
yang j a uh letaknya itu atau tidak.
Sesudah operasi-operasi pasukan V a n
Daalen dilakukan, ketika orang menyangka bahwa Calon Sultan barangkali akan
datang ke Gayo Luos, pergilah satu perutusan dari sana ke daerah Laut T a w a r
dan bertemu dengan Calon Sultan di Rawe . Peristiwa itu terjadi pada bulan
Desember 1901, jadi masih dalam kurun waktu dua tahun ketika tidak ada kêjuron,
seperti yang baru disebut tadi. Keluarga kêjuron dalam perutusan itu
diwakili oleh Ama - n - Ratus dan oleh anggota terkemuka dalam keluarga mudö[27],
Ama-n-Bédén. Tokoh tersebut, bertentangan dengan semua peraturan dan
asal usul, pernah juga menjadi kejurön selama beberapa tahun (kira-kira
tahun 1897-1900). Selanjutnya datang ke sana Ama-n-Lénténg serta seorang
saudara sepupu langsung dan wakil dari Röj ö Buket (Gayo Luos), Ama-n-Jëmalen ,
saudara sepupu dan wakil dari Röj ö (Cék) Kuto Lintang, dan para röjö
atau pengulu dari Golo, Porang, Rema,Tampeng, Lempelam
(Kemala Derna), dan Gegarang^ (Pengulu SöndÖrön) . Banyak orang terkemuka
(antara lain Pëparék, Penosan, Paser, Padang) tidak mengirimkan seorang pun .
Delapan hari lamanya wakil-wakil
tersebut tinggal di Rawe, yang di tempat itu Calon Sultan hanya dikelilingi
oleh beberapa pengikut, antara lain, T . Arön , yang dijumpai oleh Ama - n -
Ratus lebih kurang enam tahun yang lalu, bersama dengan Teungku M a t Sa'it di
kampung Likot (Tanah Alas), sewaktu mereka sedang kembali dari sebuah
perjalanan perampokan T a n a h Batak. Mereka itu adalah orang-orang terkemuka
(kelak gugur di Pameue) . Selanjutnya di situ ada Röj ö Buket Ëwéh =
Ama-n-Usén, kepala cabang kedua keluarga Büket ; Ama - n - Kerköm , saudara
sepupulangsung dari Röjö ' Buket Lah. Yang disebut terakhir
adalah kepala cabang pertama keluarga Buket. Di Lindung Bulon ketika itu ia
sudah menderita penyakit yang menyebabkan kematiannya . Siah Utama, seorang
wakil keturunan Gunbng, menurut pendapat Ama - n - Ratus, berasal dari Toweran;
serta beberapa kepala Gayo bawahan .
Ama - n - Ratus tidak
diangkat menjadi kejuron, melainkan menjadi wakil Calon Sultan di Gày o
Luos untuk mengurus kepentingannya di sana. Sehubungan dengan itu ia kemudian
menerima surat mengenai pengiriman uang yang menurut Calon Sultan kurang 129
dolar. Hal itu berkenaan dengan satu peristiwa yang telah terjadi di Tampeng .
Di situ seorang petualang Aceh telah menampilkan diri di bawah nama Teungku
Haji Sultan M u h a m a t Usman . Ia, sebagai pemungut semu uang sabil,
ternyata telah memungut sejumlah besar uang di T a n a h Alas maupun di T a n a
h Gayo. Ketika para pengikutnya, yang terdiri atas beberapa puluh orang Alas
(antara lain orang yang bernama Panglima Putéh), mengetahui bahwa ia mau
melarikan diri dengan membawa uang - uang sabilnya (untuk sementara menuju T a
m p o r ) , mereka lalu berdebat dengannya . Akhirnya, petualang itu, setelah
dengan sia-sia didorong untuk pergi ke Laut T a w a r untuk menghadap Calon
Sultan, dibunuh oleh orang-orang T a m p e n g itu. Kemudian orang Alas, tanpa
membawanya, langsung mengunjungi Calon Sultan di Takengon . Mereka tiba di situ
tepat pada waktu pasukan V a n Daalen datang . Panglima Putéh dan 4 orang di
antara pesertanya gugur di sana. Lalu yang lain-lainnya kembali ke negerinya
sendiri.
Orang - orang Tampeng tidak
tergesa-gesa untuk meneruskan uang yang ditinggalkan oleh petualang yang mereka
bunuh itu kepada Calon Sultan. Sebaliknya, mereka akhirnya, masih sebelum
perutusan itu pergi ke Rawe, mengutus delapan panglima (yaitu panglima si waluh,
lihatlah surat yang dibawa oleh Ama-n-Ratus) dengan membawa uang 121 dolar. T e
n t a n g uang yang, menurut calon sultan itu, masih kurang 129 dolar,
disebutkan dalam suratnya itu. Kemudian para utusan Calon Sultan masih mencoba
sekali lagi untuk mendapatkan uang itu dari orang-orang Tampeng, tetapi
sia-sia.
Di Rawe, Ama - n -
Ratus, selain menerima surat kekuasaannya, juga menerima sepucuk surat lagi
untuk memperingatkan orang-orang T a m p e n g yang segera melarikan diri dari
Rawe agar melakukan kewajibannya. Selanjutnya beliau mengirim surat-surat untuk
minta pertolongan kepada Kejuron Karang, Sultan Langkat, serta Datuk Lepan.
Surat yang pertama itu sebenarnya akan dibawa oleh Ama - n - Ratus sendiri,
tetapi tertinggal di rumah . Surat kedua diberikannya kepada Tengku Itam dari
Stabat, yang ketika itu kebetulan berada di Gayo Luos. Surat ketiga akan
disampaikan oleh RÖj ö Porang. Berangkatlah Ama - n - Ratus pada bulan Agustus
1902 (dari Penampakan, tempat ia kembali dari Rawe pada bulan Desember 1901) ke
Tampor . Di sana, selain seorang kepala (Nyak Uroi) dengan gelar kecik, terdapat
juga seorang kerabat j a u h dari kejurön-kéjurön: Röj Ö M u d ö J
a d e n , disebut juga Ama-n-Sitiala, yang sedikit banyak menjalankan
kekuasaan.
J
a d e n telah membantu penangkapan dan penyerahan seorang tawanan yang diikat
dengan rantai yang telah melarikan diri kepada Pemerintah T
e m i a n g . Hal itu dibalas oleh kepala gerombolan yang tersohor jahat, juga
seorang tawanan yang diikat dengan rantai yang lari. Antara lain dalam laporan
pasukan Schneiders[28]
disebut Si Duat, sedangkan oleh pribumi ia disebut Si Luat.
Menurut Ama - n - Ratus, orang tersebut, bersama lebih kurang 12 orang
pengikutnya, tinggal di ladang Jambur Batang, lebih kurang satu hari
perjalanan ke hilir dari Bonen, di tepi Sungai Peureulak.
Ketika
J a d e n , bersama mantan kêjuron,Nyak Sara, bermalam di K u t a Bandar
(ke hilir dari Batu Bedulang) dalam perjalanan kembali dari Temiang ke Tampor,
mereka disergap oleh Si Luat . Nyak Sara melarikan diri, tetapi J a d e n
dibawa sebagai tawanan ke J a m b u r Batang. Si Luat memberitahukan bahwa J a
d e n dapat ditebus dengan uang 555 dolar. Jika tebusannya tidak datang, J a d
e n akan dibunuh .
K a r e n a itu,
dalam bulan Agustus, Ama - n - Ratus pergi ke T a m p o r dan kemudian ke J a m
b u r Batang. Dengan pembayaran sementara sebanyak 100 dolar, J a d e n dapat
dilepaskan dan dibawa kembali ke Tampor . Di tempat itu J a d e n tak lama
kemudian meninggal. G u n a memenuhi sisa uang tebusan itu, maka yang sanggup
menjadi jaminan terhadap Si Luat ada empat orang, yang tinggal pada satu ladang
Bebudak, ke hilir dari J a m b u r Batang. Orang - orang tersebut adalah T u a
n Kali dan Datuk Laksamana, yang merupakan pengungsi dari Temiang; Petua M a m a
t (ayahnya dari Pidie, ibunya dari Temiang) dan Ama - n - Pematang dari Bonen.
Menurut Ama - n -
Ratus, ia kemudian pergi ke Kejuruan K a r a n g untuk minta pertolongan guna
pembayaran jumlah termaksud itu.
Jambur Batang dan
Bebudak, yang keduanya dianggap termasuk daerah Serbojadi dalam arti
yang lebih luas, dengan demikian pantas sekali mendapat perhatian, dan Ama - n
- Ratus agaknya akan tahu jalan di sana.
Ama - n - Ratus
mengetahui jalan di T a n a h Alas dan mengetahui lalu lintas orang Alas di daerah
Gayo. Di samping lebih kurang 40 orang Alas yang mengunjungi Calon Sultan di
Takengon, ia tidak mendengar berita tentang rombongan - rombongan dari negeri
tersebut yang, katanya, datang ke Laut T a w a r . Ia berani menyangkal berita
bahwa Kejuron Batu mBulon bertemu dengan Calon Sultan.
Mengenai masalah
perginya Calon Sultan ke Gayo Luos, Ama - n - Ratus sependapat dengan semua
orang Gayo yang saya mintai keterangan tentang hal itu bahwa kepergian itu
tidak pernah terjadi.
Ama - n - Ratus
sangat cerdas dan sepenuhnya mengetahui masalah Gayo Luos. Ia berusaha sekuat
mungkin untuk memperoleh kebaikan pihak Kömpeun i dengan cara memberikan
keterangan-keterangan. Apa yang disampaikan itu sepenuhnya sesuai dengan
keterangan-keterangan saya yang terbaik. Malahan, dalam beberapa hal,
keterangan itu cukup banyak dilengkapinya.
K e p a d a Yang Terhormat Residen Betawi
Sebagai j a w a b a n atas surat
kiriman Anda tertanggal 15 Desember 1902, No . 15799/4, maka bantuan kepala
suku Gayo, Ama - n - Ratus, saya perlukan dalam tinjauan kembali yang terakhir
terhadap telaah saya mengenai tanah dan suku Gayo. Sehubungan dengan pekerjaan
saya lainnya, bantuannya itu hanya dapat saya manfaatkan sekali-sekali pada jam
- jam yang tidak dapat ditentukan lebih dahulu setiap hari. Maka, cara yang
paling baik untuk mencapai sasaran ialah jika sehari suntuk, dari pagi sampai
pada waktu ia harus kembali lagi ke tempat tinggalnya, ia tetap tinggal untuk
melayani keperluan saya. J a d i , akan menyenangkan saya seandainya Anda dapat
mengurus hal itu sedemikian rupa, sehingga Ama - n - Ratus, selama belum ada
keputusan atas permohonan yang disampaikan baginya untuk mendapat pengampunan,
pada pagi hari diantarkan ke rumah saya dan pada malam hari dijemput lagi.
Bandung, 9 September 1903
Ke
hadapan Yang Mulia Gubernur Jenderal
Memang, kekuasaan
para kêjuron di T a n a h Gayo sekali-kali tidak dapat dibandingkan
dengan kepala daerah laras di Aceh dan daerah taklukannya.
Benar, di antara yang tersebut terakhir itu ada beberapa
orang yang, sehubungan dengan lingkup kekuasaannya, penandatanganan dan
sumpahnya atas perjanjian singkat serta pemberian kepada mereka berupa piagam
yang ditandatangani oleh Wali Negeri (Gubernur Jenderal) sendiri, juga hampir
menimbulkan tertawaan, seperti yang pernah terjadi pada Kejuron Siah Utama . O
r a n g tersebut masih juga terpaksa membagikan kekuasaannya di sebuah kampung
yang tidak banyak artinya dengan kepala-kepala lain. Maka, menurut pandangan
saya, tetap harus disesalkan bahwa tidak kepada semua kepala daerah laras di
Aceh disodorkan perjanjian yang lebih singkat lagi, terutama tanpa butir yang
berbunyi: kedua dan sebagainya. Sesudah penyodoran itu, sebetulnya soal
penggantian pejabat dapat merupakan urusan kedaerahan semata-mata. Namun, para
kepala Aceh itu, besar atau kecil, bagaimanapun semuanya menguasai salah satu
daerah laras. Di T a n a h Gayo, hal itu tidak terjadi pada para kepala pada
umumnya, juga pada para kejuron pada khususnya. Dapat dikatakan bahwa j
a b a t a n kêjuron pada orang Gayo adalah satu-satunya j a b a t a n
yang dalam keadaan baik mestinya dapat berkembang menjadi salah satu bentuk
kekuasaan wilayah atas para kepala suku dan k
e t u r u n an yang tinggal di dalam batas-batas tertentu. Akan tetapi, hal itu
memang sudah telanjur tidak terjadi.
Mengenai asal usul
dan perkembangan j a b a t a n kejurön di T a n a h Gayo, saya tidak
dapat menambahkan keterangan baru pada apa yang terdapat dalam karya saya, Het
Gajoland (Tanah Gayo). Memang, masuk akal bahwa Pemerintah kita di daerah
tersebut harus bekerja secara langsung melalui banyak kepala suku dan keturunan
. Maka, terpaksa setiap kepala kecil itu dituntut untuk menyerah kepada
kekuasaan kita. Tentu saja hal tersebut tidak meniadakan kemungkinan bahwa
keadaan di kemudian hari akan menyebabkan diperlukannya pemusatan kekuasaan.
Namun, untuk kepentingan itu sekarang belum waktunya, lebih-lebih karena bagian
yang terbanyak penduduknya di T a n a h Gayo ternyata masih harus ditaklukkan.
Kelayakan bahwa para kejuron itu, bila mungkin terjadi pemusatan, justru
harus menduduki tempat - tempat yang penting, tidak melebihi kemungkinan dalam
keadaan yang sebaliknya. Tidak ada kepala lain yang menganggap dirinya terikat
oleh keterangan-keterangan pihak kêjuronberdasarkan tradisi atau adat,
agar berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu. Maka, perjanjian-perjanjian
singkat, yang ditandatangani dan diperkuat oleh sumpah para kejuron,
hanya berharga untuk orang-orang mereka dan untuk keluarga-keluarga yang paling
dekat kekerabatannya. Hal tersebut belakangan itu juga baru berlaku, asal
para kerabat tersebut diajak berunding sebelum penandatanganan itu terjadi.
Penaklukan para
kepala-datuk orang Gayo - para kejuron pun termasuk di situ - dapat
terjadi berangsur-angsur, sesuai dengan bertambahnya hubungan, seperti,
bagaimanapun, sudah berlaku pula sampai sekarang. Dokumen-dokumen tertulis
mengenai hal itu tidak usah dibuka lagi. Mengenai hal yang tersebut terakhir,
mungkin orang hendak mengadakan pengecualian untuk para kejuron, sebab
martabat mereka oleh tradisi dikaitkan dengan batas-batas wilayah tertentu -
meskipun batas-batas itu, khususnya bagi Siah Utama, sudah hampir seluruhnya
terhapus sedangkan martabat setiap kêjuron itu diakui dalam bagian
tertentu di T a n a h Gayo. Oleh karena itu pengecualian itu juga harus terjadi
untuk Röj ö Cék di Bobasan dan Kejuron Abô k di Serbojadi.
Sebaliknya, mengenai
keenam kepala itu, cukuplah jika mereka disuruh menandatangani dan bersumpah
atas satu perjanjian yang isinya: oleh karena T a n a h Gayo sekarang merupakan
sebagian dari wilayah Hindia Belanda, maka mereka akan menerima kembali jabatan
- jabatan mereka (nahma), yang pernah mereka pangku masing-masing, dari
tangan Gubernur Aceh dan daerah taklukannya. Dalam pelaksanaan j a b a t a n
mereka berjanji akan berlaku sesuai dengan perintah-perintah yang akan
diberikan kepada mereka oleh atau atas nama G u b e r n u r . Satu piagam
tertulis yang berisi pengakuan dan pengukuhan mengenai hal itu tidak usah
disampaikan kepada mereka. Kalau diberikan juga, maka piagam itu paling tidak
harus berdasarkan salinan sebuah keputusan pengangkatan dari Gubernur Aceh.
Penaklukan dan
pengukuhan atau pengangkatan para kepala-datuk yang lain seluruhnya dapat terjadi
secara lisan, tanpa kerugian apa pun dalam hal itu.
D e n g an mengikuti garis perilaku yang di cantumkan di sini, maka secara berlebih-lebihan
akan diperoleh dokumen-dokumen tertulis mengenai penaklukan para kepala suku
Gayo yang di dunia luar dianggap sebagai para kepala khususnya, apakah dengan
hak yang lebih atau kurang. Maka, orang akan terhindar dari pemberian wilayah
atau kekuasaan kepada para penyandang gelar itu, padahal mereka tidak memiliki
wilayah atau kekuasaan itu.
Betawi, 28 Februari 1906
K e hadapan Gubernur Sipil dan Militer di Aceh dan Daerah
Taklukannya
Seperti yang agaknya
sudah Paduka T u a n ketahui, maka orang Gayo yang bernama Ama - n - Ratus,
yang termasuk keluarga Kejurö n Pétiambang, hingga sekarang tinggal di tempat
saya dan telah banyak memberikan jasa karena keterangan-keterangannya di bidang
ilmu bahasa dan ilmu bangsa. Karena ia lama tinggal di Betawi, agaknya nilainya
bagi pemerintahan atas Gayo Luos bertambah banyak sekali. Meskipun buta huruf,
Ama-n-Ratus cukup cerdas dan mempunyai banyak pengetahuan mengenai keadaan
setempat.
Karena pada tanggal
29 Maret yang akan datang saya akan berangkat ke Eropa dengan Kapal Koningin
Regentes, maka saya kira akan paling sederhana jika Ama - n - Ratus itu
dapat saya bawa sampai ke Sabang. Akan tetapi, karena di daerah asing ia juga
tetap agak canggung, perlulah Penguasa Sipil di Pulau We mengambil alih Ama - n
- Ratus dari saya, dan mengurus apa - apa yang perlu untuk melanjutkan
perjalanannya selekas mungkin ke Kutaraja . Di sana ia lalu dapat melaporkan
diri kepada Pemerintah.
Saya akan senang jika
saya dapat mendengar kabar dari Anda, sebaiknya melalui kawat, apakah hal
tersebut benar - benar dapat saya harapkan .
's-Gravenhage, 29 Juli 1906
Ke hadapan Yang Mulia Menteri Daerah Jajahan
Sejauh pandangan saya, surat-surat
keputusan tentang pemungutan pajak kepala di T a n a h Gayo dan Alas, yang
sekarang baru masuk, termasuk dokumen-dokumen yang menggambarkan[29] sejarah perkembangan r a n c a n g a n - r a n c a n g an yang telah dibahas dalam
surat saya tertanggal 5 Juli 1906, No. 4.V. Akan tetapi, dokumen yang baru
datang itu tidak lagi mempunyai arti penting sebagai rancangan dan penjelasan.
Sehubungan dengan berbagai butir dalam
rencana ordonansi Kapten Colijn[30],
perlu dicatat hal yang berikut.
Butir 1. Keberatan
terhadap nama pajak kepala, yang menurut pandangan saya kemudian
sangat dilebih-lebihkan, rupanya, pada awal tahun 1905, sedikit pun belum
terasa. Perubahan dari umur paling muda, yaitu 18 tahun, yang telah diusulkan
itu, menjadi 16 tahun, oleh Direktur Keuangan, adalah contoh khas tentang usaha
ke arah keseragaman di atas kertas. Itu tanpa mempedulikan keadaan - keadaan
nyata - sementara yang bersangkutan lalu menganggap dirinya tidak berwenang
untuk menilai keadaan nyata itu.
Sebagaimana sudah saya ulas dahulu,
maka umur paling muda 20 tahun pun harus dianggap rendah sekali.
Butir
4 dan 5
(menurut tambahan dari
Direktur Keuangan: 5
dan 6). Di sini
dan dalam butir
7 (8), sekurang-kurangnya mengenai penetapan pajak,
lebih banyak diperhitungkan tentang
pembagian suku Gayo yang
berlaku sekarang, daripada
yang terdapat dalam
rancangan bagi daerah taklukan
di Aceh yang
menyusul kemudian. Namun,
dalam penetapan itu, yang
berdasarkan taksiran akan
kemakmuran kampung secara lahiriah,
tetap tercermin unsur
besar berupa kesewenang-wenangandan ketidakadilan terhadap
kaum miskin.
Mengenai pembagian menurut
golongan-golongan kemakmuran dan terutama tentang penerapannya pada masa awal
ini, dalam surat kiriman saya tertanggal 5 Juli 1906, No. 4.V, telah dicatat
hal-hal yang perlu.
Dalam
penjelasan butir-butir itu
ada dua hal
yang patut diperhatikan. Di antara
motif-motif yang dikemukakan
untuk menentang jumlah uang
kepala yang seragam,
terdengar juga alasan
bahwa para penghuni daerah - daerah yang
jauh letaknya, yang
di sana kemakmuran
paling rendah tarafnya sebagai
akibat langkanya penduduk,
juga harus dituntut untuk melakukan
rodi yang lebih
berat. Pendapat tersebut,
yang sayang sekali telah
berakar di Aceh,
saya anggap tidak
wajar. Bila sebagian penduduk tinggal
j a uh dari pusat
pemukiman penduduk karena
perlu mencari nafkah, sedangkan
mereka terpaksa melakukan
perjuangan hidup yang lebih berat
dibandingkan dengan para
penghuni di tempat
lain, maka dapatlah diajukan
banyak alasan untuk
membiarkan orang-orang yang hidup
tersebar itu tetap
tidak dikenai peraturan
rodi. Sebaliknya, jika kepada
mereka dipaksakan lebih
banyak lagi kerja
pribadi dibandingkan dengan yang
dituntut dari orang-orang
sesukunya yang lebih
beruntung, itu hanya merupakan
kelaliman belaka, sedang
penerapan asas-asas seperti itu,
lebih dari tindakan
lain, menghalangi perdamaian yang
tahan lama. Padahal, alasannya
semata-mata: kalau tidak
diadakan peraturan seperti itu, maka
beberapa
pekerjaan
umum yang menurut pandangan kita perlu, tidak akan dapat diwujudkan tanpa
penggunaan sarana di pihak kita.
Kedua, guna meniadakan keberatan bahwa
hanya dengan bersusah payah penduduk baru dapat menghasilkan pajak uang
seperti itu, maka dikemukakanlah kenyataan bahwa pasukan-pasukan kita, yang
untuk sementara bermukim di T a n a h Gayo, membeli beras dan ikan di sana,
jadi, memasukkan uang bagi penduduk . Pertanyaan yang timbul di pihak pembaca
yang arif, apakah pertanian padi di T a n a h Gayo selalu akan dapat memenuhi
kebutuhan penduduknya sendiri, terjawab dengan kata-kata seperti berikut,
"Dengan pengawasan dari pihak Pemerintah atas penanaman padi, negeri ini
cukup menghasilkan padi untuk dapat memenuhi kebutuhan pasukan pendudukan .
" Dengan kata lain, "Apabila banyak orang Gayo pada saat ini mendapat
mata pencarian lain yang lebih menguntungkan dari sekadar menanam padi yang tidak
mereka perlukan sendiri." Padi itu lalu dibeli oleh pihak Pemerintah
dengan harga yang ditetapkan secara sewenang-wenang. Maka,
"pengawasan" itu akan memaksa orang-orang gunung yang biasa bebas itu
untuk kembali menanam padi. Itu pun demi kepentingan perbekalan yang mudah bagi
pasukan pendudukan, sekaligus dengan mudah menjadi peluang yang menghasilkan
pajak.
Butir 14 (15). Penetapan
imbalan pemungutan pajak sebanyak 5 % , atau sebagaimana di tempat lain
diusulkan sebanyak 6%, sebagaimana yang telah saya ulas, merupakan satu
penyimpangan yang sepenuhnya sewenang-wenang terhadap jumlah tradisional yang
telah ditetapkan sebanyak 8%, yang paling tidak, ternyata tidak terlalu banyak.
Butir ij (18).
Alasan-alasan yang diajukan dalam penjelasan itu sekarang harus
mendorong agar ordonansi pajak tersebut baru mulai berlaku pada tanggal 1 J a n
u a r i 1908.
Sebaliknya, penegasan
pada awal tahun 1905, yakni bahwa "selambat-lambatnya setahun lagi kampung
- kampung yang memusuhi kita akan menyerah", merupakan bukti optimisme
gegabah yang telah menimbulkan sangat banyak bencana di Aceh. T e r u t a m a
tindakan- tindakan para pemuka perang bawahan serta para penguasa sering sekali
dinilai secara tidak adil. Sekarang pun, lebih dari setahun kemudian, kita
masih belum selesai sama sekali. Bukan saja Linggo dan sebagian daerah Laut
belum ditenteramkan, melainkan juga, selama T . Ben Biang Pidie dan para
pengikutnya belum tertangkap, sebagian penduduk Gayo Luos pun akan tetap
melawan.
Redaksi Ilmiah:
Zaini MuchtaromJacob Vredenbregt
E. van Donzel
Redaksi:
Jakarta: Ny. P.A. Iskandar Soeriawidjaja-Roring
Wiwin Triwinarti Wahyu
Ahmad Seadie
Leiden: Audrey Pieterse
Penerjemah:
Sukarsi
Nasihat-nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya
Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936
Jakarta: INIS, 1990, Seri Khusus INIS Jilid III
xii, 96 him., 24,5 cm.
ISBN 979-8116-05-4
1. Nasihat-nasihat C. Snouck Hurgronje
2. Semasa Kepegawaiannya
3. INIS
Perpustakaan Nasional:
Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS)
I n f o r m a si U m u m tentang INIS
Latar Belakang
D a l am sejarah Indonesia yang panjang
dan kaya, Universitas Negeri Islam, Institut Agama Islam Negeri (IAIN),
merupakan fenomena yang baru muncul. Pada saat ini ada empat belas I A I
N yang memberikan pendidikan dan penelitian mengenai Islam, dalam taraf
universiter. Semuanya ada di bawah Departemen Agama R I . Perkembangan daerah
didorong dengan berdirinya fakultas-fakultas baru, yang sekarang dianggap
sebagai cabang IAIN . Meskipun I A I N dapat dianggap telah mantap, Departemen
Agama ingin sekali mengakselerasikan perkembangan lebih lanjut
universitas-universitas ini.
Kerja
Sama Indonesia-Belanda dalam bidang
Studi Islam
Untuk tercapainya
tujuan tersebut diusahakan adanya kerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan
tinggi Islam lain yang bertaraf internasional. Salah satu lembaga ini adalah
Universitas Negeri Leiden, Belanda. Di universitas itu telah lama diadakan
studi Islam dan di situ juga dalam banyak bidang sejarah dan kebudayaan Islam
dipelajari di berbagai jurusan . Kerja sama ini, Indonesian-Netherlands
Cooperation in Islamic Studies (INIS), dilaksanakan oleh Jurusan
Bahasa-Bahasa dan Kebudayaan Asia Tenggara dan Oseania, Universitas Leiden dan
Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam, Departemen Agama, Jakarta . Kerja sama
ini akan berlangsung dari tahun 1989-1994 dan akan dibiayai oleh Pemerintah
Indonesia dan Belanda. Tujuan INIS ialah pengembangan dan penataran tenaga ahli
Departemen Agama dan Universitas Islam Negeri dalam bidang Studi Islam, dan
pengembangan sarana kepustakaan dan penelitian yang memadai di
universitas-universitas tersebut.
Kegiatan-kegiatan
Untuk mencapai tujuan
ini, kegiatan-kegiatan berikut dilaksanakan:
1. Memberikan pendidikan pascasarjana dalam
studi Islam kepada tenaga-tenaga dari Departemen Agama dan Universitas Negeri
Islam, baik di Indonesia m a u p u n di Belanda;
2.
Memberikan sarana penelitian kepada
sarjana-sarjana Islam Indonesia di Leiden, negeri Belanda;
3.
Memajukan koleksi-koleksi kepustakaan Universitas-universitas
Negeri Islam dengan cara setiap tahun menyediakan sejumlah buku dan majalah
periodik dalam bidang Islam untuk keempat belas I A I N itu.
4.
Mendistribusikan publikasi yang ada
hubungannya dengan bidang Islam dalam rangkaian terbitan INIS Materials.
5.
Mempublikasikan INIS Newsletter
(Buletin INIS) untuk meningkatkan komunikasi ilmiah antarsarjana Islam
Indonesia, dan juga antara sarjana Islam Indonesia dan sarjana Islam Barat.
Ketua I N I S di negeri Belanda:
Prof. Dr. W.A.L. Stokhof
[1] C C . Musch, diangkat
menjadi kapten brigade perekaman Jawatan Topografi pada tahun i8g8 Tahun 1913
sebagai letnan kolonel dan kepala Jawatan Topografi. Reg. Alm.
N.I
[2] Suku ini kebanyakan
tinggal di Bintang dan rumah-rumahnya yang terpenting terletak di dekat muara
sungai. Dari situlah asal nama Kuala atau Kala. Adapun nama jabatan céktentu
saja baru timbul setelah pemisahannya di bawah pejabat muda. Sekarang
pun terkadang masih dikatakan pengulu kala.
[3] Pengulu Suku yang sebenarnya ialah
Bantan, yang disebutnya Ama-n Rejah, pengulu Gölö Suleman, atau Ama-n-Selujah.
[4] Meskipun pembagian suku-suku yang
dimuat dalam tulisan ini, biarpun dengan bentuk yang agak lain, terdapat dalam
karya yang terbit setahun kemudian "Het Gajoland en zijne
Bewoners" (Tanah Gayo dan Penduduknya), penyebutannya di sini tidak
dihilangkan, demi lengkapnya.
[6] Sebagian
di antaranya, belum lama berselang, telah memisahkan diri di bawah seorang
kepala
tersendiri, Röjö Imöm.
tersendiri, Röjö Imöm.
[7] Dalam
hal nama-nama seperti ini sudah dengan sendirinya nama keturunan tersebut
sekaligus
menjadi nama kepalanya. Dalam hal nama lain di muka nama keturunan itu dengan mudah dapat ditempatkan gelar Pengulu atau rbjo guna mendapat nama kepala tersebut, kecuali kalau ada
nama jabatan lain yang dikemukakan.
menjadi nama kepalanya. Dalam hal nama lain di muka nama keturunan itu dengan mudah dapat ditempatkan gelar Pengulu atau rbjo guna mendapat nama kepala tersebut, kecuali kalau ada
nama jabatan lain yang dikemukakan.
[9] Penyandang gelar yang
sekarang bernama Cut, dengan nama lain Aman Cemani atau Cahyamani Saudara
sepupunya, Ama-n-Nyak, berfungsi sebagai "banta"nya. Saudara
sepupunya yang lain, Ama-n Usén, banyak bepergian ke Isak dan daerah Pase. Kéjuron
sendiri tidak banyak bepergian, maka ia agaknya sangat kurang terpelajar.
[10] Sebagian suku itu di bawah Pengulu Möngkör mengungsi ke daerah Laut Tawar (Hulu
Sungai Semodom atau Bidin).
[11] Harus dibedakan dari suku Kong
(Pegaseng) di daerah Laut Tawar, dan dibedakan dari suku dan kampung Kong di Gayo Luos
[12] Para penghuni Penaron yang asli
kebanyakan telah pindah ke Serbojadi, tempat mereka menetap di tepi Sungai
Bonen, tetap dibawah kepalanya sendiri.
[13] Di
kampung-kampung Kala Lemposo dan Garot.
[14] Menurut
tradisi, Nyak Sara, anak dan cucu beberapa kêjuron yang terdahulu (ayah: Sapar; kakek Ubon)
konon paling berhak atas gelar tersebut. Karena orang ini, yang menikah di
Temiang, tidak seberapa mempedulikan jabatannya, maka kerabat-kerabat
lainnyalah yang bertindak. Seorang saudara sepupu Nyak Sara, yaitu Ama-n-Geröt,
yang sebenarnya menjabat kêjuron,
gugur dalam
peperangan melawan Röjö Buket (Gayo Luos). Karena itu orang yang bernama Nyak
Röjö tampil ke muka, namun Calon Sultan rupanya telah mengangkat Ama-n Ratus
sebagai kêjuron.
[15] Pengulu
Iempöh mempunyai nama jabatan P. Jaléï.
[16] Aslinya
"kepala orang-orang asing", seperti terdapat juga di negara-negara
Melayu.
[17] Pengulu Mudo adalah gelar kepala
Brandang. Para penghuni Ulu-n Tanoh termasuk Rema dan Tampeng.
[18] Ketukah dan Akol termasuk dukuh-dukuh
suku ini.
[19] Nama jabatan kepalanya adalah Röjó'
Padang.
[20] Dengan bertolak dari Padang, hampir
seluruh daerah aliran sungai Padang sudah diisi dengan
penduduk. Padang sekaligus juga menjadi cek atas orang-orang dari Kong yang tinggal di Umah Tunggol dan Kuto Sangge dan orang Nosar yang tinggal di Rumpi.
penduduk. Padang sekaligus juga menjadi cek atas orang-orang dari Kong yang tinggal di Umah Tunggol dan Kuto Sangge dan orang Nosar yang tinggal di Rumpi.
[21] Göip = jauh, dekat =
dekat.
[22] Yaitu "Hilir Sungai Reröbö".
Bekas dukuh "Hulu Sungai Reröbö" (R. Ukon) telah ditinggalkan.
[23] Katanya
orang yang mempunyai paling banyak hak tradisional atas gelar tersebut ialah
Ama-nUyöm, orang yang tidak seberapa penting artinya. Hak-haknya selalu
diwakili oleh 2 saudara semenda suku Melayu; Ama-n-Nyak Ara disebut juga Guru
Kucak (sekarang menjadi buron) dan pasukan Ama-n-Sapar yang bersama Ama-n-Uyöm
telah menampakkan diri pada pasukan Schneiders dan baru-baru ini juga datang ke
Kutaraja.
[24] Orang-orang ini berasal dari pemukiman
yang termasuk Pfparék, yang pernah terpandang tetapi sekarang menjadi miskin,
yaitu Sekuolon. Karena berkali-kali mengalami perselisihan dengan cék mereka, yaitu Cék Péparék, maka
pemukiman tersebut mereka tinggalkan.
[25] Para penyandang gelar
itu berturut-turut tinggal di Bonen, Selemak, atau Rampah. Sampai belum lama
ini gelar itu disandang oleh seorang semenda bersuku Aceh dari Meureudu,
bernama Ama-nIntan. Sesudah meninggalnya dalam tahun 1902 ia diganti oleh
Ama-n-Mega yang memang seorang kerabat benar-benar. Hubungan dengan Kêjuron
Abök tidak selalu bersifat tergantung padanya.
[26] Penyandang gelar yang sekarang bernama Ama-n-Ratus.
[27] Seperti banyak suku
di Gayo Luos, suku Kejurö n pun terbagi atas sebagian yang berada di bawah
seorang cek dan sebagian lagi yang berada di bawah seorang mudö.
Kedua cabang dari satu keluarga tersebut tadi, yang selalu menjadi sumber bagi pemilihan
kêjuron,merupakan keluarga cék.Adanya huru-hara serta pengaruh
dari Aceh pada tahun 1897 telah menimbulkan akibat yang sebelumnya tidak pernah
terdengar, yaitu bahwa seorang anggota keluarga mudo menjadi kêjuron.Akan
tetapi, kemudian orang ini dipecat lagi, tanpa segera diganti.
[28] J.H.A. Schneiders
lahir tahun 1864; tahun 1897 menjadi kapten, tahun 1916 pensiun sebagai
kolonel. Lihatlah nama dan pangkat perwira tentara di Hindia Timur Belanda, 1902, 1917.
kolonel. Lihatlah nama dan pangkat perwira tentara di Hindia Timur Belanda, 1902, 1917.
[29] Lihat III - 31.
[30] H. Colijn (1869/1944): pada tahun 1897 - 1904 ditugaskan
melakukan pemerintahan sipil dan militer di beberapa bagian daerah Aceh, pada
tahun 1901 diperbantukan kepada Jenderal Van
Heutsz
Heutsz

Komentar
Posting Komentar